[SAGA] Niqab Squad: Ada yang Meneriaki Ninja, Setan, Mumi

Hanya saja, perempuan bercadar atau berniqab selalu diidentikkan dengan teroris. Hal itu bermula usai serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat.

Jumat, 03 Nov 2017 14:05 WIB

Komunitas Niqab Squad yang digagas Indadari Mindrayanti. Foto: Dwi Reinjani/KBR.

KBR, Jakarta - Di Taman Kota 1, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, puluhan perempuan menggelar lapak pakaian bekas. Beralas kardus dan beratap terpal, mereka menjajakan baju layak pakai. Ada pakaian perempuan, pria, anak-anak hingga kerudung, terhampar. Harga yang dibanderol pun murah meriah; mulai dari Rp5 ribu sampai Rp50 ribu tiap potongnya.

Tapi yang mencuri perhatian saya dan orang-orang sekitar, pakaian yang dikenakan para perempuan yang menjual baju bekas tersebut. Mereka mengenakan pakaian panjang serba hitam yang menutupi seluruh tubuh kecuali bagian mata.

Itu hari, rupanya mereka tengah menggelar bazar amal yang hasilnya akan diberikan pada pengungsi Rohingya. Sebelumnya, mereka juga melakoni hal serupa saat Car Free Day di Bundaran Hotel Indonesia. Dan, siang itu sebelum membuka bazaar, doa bersama dilantunkan.

Salah satu perempuan itu, Indadari Mindrayanti. Dia penggagas Komunitas Niqab Squad sejak Maret 2017. Indadari bercerita, komunitas ini dibentuk agar para perempuan muslim bercadar tak minder lantaran gaya berpakaian yang tak dianggap tak lazim.

“Aku mau menyosialisasikan cadar. Kayak tadi, aku dengar cerita ada yang diteriakin ninja, setan, mumi. Jadi kami berusaha membiasakan orang-orang melihat, agar tidak takut lagi,” ujar Indadari.

Perempuan kelahiran Mei 1982 ini mantab mengenakan niqab pada 2015 silam. Baginya, niqab jadi pelengkap ibadah. Hingga pada Maret 2017, Indadari mendirikan Komunitas Niqab Squad.

Belakangan, kata dia, tak lama setelah Niqab Squad dikenal, perlahan perempuan yang mengenakan niqab mulai bermunculan. Mulai dari daerah-daerah hingga luar negeri. Dia bahkan mengklaim, anggotanya kini mencapai ratusan orang yang tersebar di 30 wilayah.

“Maret kami bikin gathering pertama, ngumpulin teman-teman yang mau bergabung di Niqab Squad Indonesia. Beberapa bulan kemudian dari daerah bahkan Malaysia, Afrika Selatan, dan Taiwan mengajukan diri untuk menjadi bagian Niqab Squad,” sambungnya.

Di komunitas ini, Indadari menyebut beragam kegiatan keagamaan dan sosial dilakukan. Salah satunya bazar –yang uangnya diberikan untuk kelompok Rohingya di Myanmar.

Hanya saja, perempuan bercadar atau berniqab selalu diidentikkan dengan teroris. Hal itu bermula usai serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat. Cap teroris lantas dilekatkan pada perempuan bercadar dan pria berjenggot. Prasangka serupa kemudian menjalar ke Indonesia dengan kencangnya serangan bom ke sejumlah daerah, misal Bali dan Jakarta.

Di Eropa, semisal Belanda, Belgia, Bulgaria, Denmark, Inggris, Italia, Rusia, Spanyol, Swiss, bahkan Jerman dan Turki melarang orang mengenakan cadar di area publik dan lingkungan pemerintahan. Ketakutan dan kecurigaan bahwa mereka bagian dari pelaku teror, kian tak terbendung.

Seperti yang disangka Witnny Alya Manjani dan Durotul Istiqomah.

“Kalau untuk stigma radikal kayaknya sangat melekat. Soalnya yang aku temukan, orang bercadar itu menganut agamanya terlalu ekstrim. Seperti bergaul juga enggak santai,” aku Witnny. 

“Kayaknya sebatas fashion aja sih. Oke lah ahlak dengan pakaian dua hal yang berbeda, tapi mereka juga tahu apa yang mereka pakai menunjukan dirinya. Kalau dikaitkan dengan radikal atau enggak, balik lagi ke orang itu,” ujar Durotul. 

Tapi seperti apa sebetulnya penggunaan niqab atau cadar? Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UIN) Jakarta, Siti Musdah Mulia, menyebut cadar atau niqab tak berkaitan dengan tingkat kesalehan seseorang.

“Buat saya cadar itu sama sekali tidak menyimbolkan kesalehan atau ketaatan dalam beragama,” tutur Musdah Mulia.

Justru, kata dia, cadar merupakan penginggalan revolusi Iran 1979. Sementara di Indonesia, penggunaan cadar atau nqab merupakan tren mode semata. 

“Saya menganggap itu fashion. Kalau menganggap cadar itu radikal, berbeda dengan fakta yang ditemukan di masyarakat khususnya di Indonesia. Yang saya alami sendiri ketika di Afghanistan, para perempuan bercadar itu enggak bebas dan kehidupannya terbelakang,” sambungnya.

Kembali ke Indadari. Meski persepsi perempuan bercadar masih negatif, tapi dia dan komunitasnya tak akan takut. Malah membuatnya berani menunjukkan bahwa mereka jauh dari tindakan teroris.

“Apapun pandangan orang jangan takut pakai niqab, kan enggak dosa dan enggak merugikan orang lain,” tutup Indadari.

Editor: Quinawaty

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim