[SAGA] Film Dokumenter Semanggi 1, Yohanes Theo: W Bisa Berarti Wawan atau… Wiranto

Mengapa judul film ini begitu singkat; W. Karena W bisa berarti banyak, bisa Wawan atau… Wiranto.

Jumat, 17 Nov 2017 16:35 WIB

Maria Catarina Sumatsih (tengah) sedang berziarah ke makan anaknya, Bernadinus Realino Irmawan. Foto: Facebook Sumarsih.

KBR, Jakarta - Di sebuah rumah tingkat dua, Maria Catarina Sumarsih bercerita tentang kenangan bersama anak sulungnya, Bernadinus Realino Irmawan –atau kerap dipanggil Wawan. Saban pagi, percakapan keduanya selalu diisi dengan menu sarapan, kopi, atau sesekali mengenai ujian kampus.

Sumarsih lantas naik ke lantai dua, menuju kamar Wawan. Kata dia, kamar itu sudah lama tak dihuni. Dia sengaja membiarkan ruang itu apa adanya seperti terakhir kali Wawan gunakan. Selimut bergaris merah muda dengan tulisan huruf W terlipat rapi di atas ranjang. Sumarsih bercerita, selimut itu kesayangan anaknya. Jika pergi keluar kota, sudah pasti ikut diboyong.

Itulah penggalan film dokumenter berjudul W, besutan Yohanes Theo. Untuk kali pertama, film ini diputar di kantor LBH Jakarta, 14 November lalu. Ini bertepatan dengan peringatan 19 tahun tragedi Semanggi 1. Dimana Wawan yang merupakan mahasiswa Atma Jaya, meregang nyawa oleh timah panas aparat saat aksi demontrasi.

Perempuan berusia 65 tahun ini, menyimpan banyak kenangan bersama Wawan. Dia pun selalu merindukan saat-saat bersama anaknya. Misal, makanan kesukaannya yaitu ikan-tempe-kerupuk. Dia bercerita, sejak kecil Wawan gampang dibujuk dengan makanan favoritnya jika susasana hati sedang tak bagus.

“Saya sangat memperhatikan pertumbuhan Wawan sejak kecil. Itu memang hanya makanan, tapi sangat besar artinya. Bagaimana saya cinta Wawan walau hanya sekedar makanan,” ujar Sumarsih.

Memori tentang si sulung yang ia simpan adalah kaos putih dengan lubang di bagian dada dan membekas bercak darah. Kaos itu dipakai Wawan saat tertembak.

“Ini bajunya Wawan yang dipakai waktu ditembak. Baju ini saya dapatkan seminggu setelah pemakaman.”

Tragedi Semanggi 1 terjadi pada 13 November 1998. Ketika itu, mahasiswa berdemo menolak Sidang Istimewa MPR 1998 dan juga menentang dwifungsi ABRI/TNI.

Siang sekitar pukul 15.30, aparat yang terdiri dari Brimob, Batalyon 305 Kostrad, dan Pasukan Anti-Huru-Hara (PHH) Kodam Jaya merapatkan barikade.

Tiba-tiba aparat merangsek maju. Ledakan gas air mata terdengar berdentum-dentum. Massa pun buyar. Panser menembakkan water canon. Lalu secara membabi buta aparat menembak dengan moncong senapan ditujukan ke arah massa.

Ketika demonstrasi 13 November 1998, Sumarsih sama sekali tak merasa firasat apapun. Tapi suatu kali, anaknya itu pernah mengatakan pada kawannya bahwa namanya akan diabadikan.

“Wawan pernah pulang dari gereja malam-malam. Dia bilang, 'bu tadi Wawan bilang sama temen entar namaku jadi nama taman gereja'.”

Kematian Wawan menyisakan duka mendalam di diri Sumarsih dan keluarga, teman sesama aktivis, gereja, dan civitas kampus. Sebab pemuda itu dikenal aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Sandyawan Sumardi, aktivis juga pendiri LSM Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuk), mengatakan Wawan adalah sosok sederhana. Baginya, Wawan begitu menginspirasi.

“Wawan adalah relawan muda yang sederhana. Dia bukan orang yang mudah berbicara namun ia berbicara melalui puisi-puisinya. Dia orang yang gelisah dengan keadaan, dengan ketidakadilan,” tutur Sandyawan.

Begitu pula dengan Patrisius Mutiara Andalas, teman Wawan. Dia mengaku begitu kehilangan.

“Sangat berat karena saya kira tidak ada dari kami membayangkan bahwa sebuah kerja kemanusiaan akan berakhir dengan kematian,” kenang Patrisius.

Tragedi Semanggi 1 sudah 19 tahun berlalu, tapi pemerintah tak pernah menyeret pelaku utamanya ke meja persidangan. Komandan ABRI kala itu, Wiranto, bahkan tak pernah mau dimintai kesaksiannya oleh Komnas HAM.

Karena itulah, sejak Januari 2007, Sumarsih mengaggas Kamis Hitam di depan Istana. Mengenakan pakaian serba hitam dan payung hitam –sebagai simbol suramnya penuntasan kasus pelanggaran HAM. Dan aksi itu, direkam sutradara Yohanes Theo.

Kata dia, butuh waktu lama untuk merampungkan film ini. Setidaknya 1,5 tahun untuk pengumpulan data.

“Proses pra produksi saya habiskan kurang lebih 1,5 tahun. Baca-baca buku filsafat, hak asasi manusia, ketemu sana sini,” jelas Theo.

Dia juga bercerita, mengapa judul film ini begitu singkat; W. Karena W bisa berarti banyak, bisa Wawan atau… Wiranto.

Kembali ke Sumarsih. Meski sudah hampir dua dasawarsa, ia akan tetap menuntut negara menyeret pelakunya ke meja hukum.

“Kalau Wawan tidak ketembak hidup saya penuh dengan suka cita, artinya saya bisa menikmati hari tua dengan baik. Kalau Wawan masih hidup rumah tangga kami utuh. Utuh sampai saya meninggal,” ucap Sumarsih lirih.




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Kuasa Hukum Tak Bisa Janjikan Setnov Hadir di Sidang Tipikor Besok

  • Kakorlantas: Tim Pengkaji Pemindahan Ibu Kota Negara Masih Bekerja
  • Disnaker Sulut: Perusahaan Jangan Lupa Bayar THR
  • Lakukan Percobaan Penyuapan, Ketua DPRD Halteng Ditahan