Keganjilan Sidang Hari Budiawan

Polisi menuduh di dua spanduk itu terpampang logo mirip palu-arit atau simbol komunis. Tuduhan menyebarkan ajaran komunisme pun langsung ditodongkan pada Hari Budiawan dan tiga warga lainnya.

Kamis, 12 Okt 2017 09:48 WIB

Warga berdemo di jalanan menuju Tambang Emas Gunung Tumpang Pitu

Warga berdemo di jalanan menuju Tambang Emas Gunung Tumpang Pitu (Foto: Hermawan)

Energi warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, betul-betul tergerus dengan persidangan yang menyeret Hari Budiawan. Hari dituding menyebarkan ajaran komunisme dan diancam hukuman 12 tahun penjara. Kasus tersebut bermula pada 4 April silam ketika warga sedang gencar-gencarnya menolak tambang emas di Gunung Tumpang Pitu. Untuk itu, mereka memasang 11 spanduk penolakan di sepanjang pantai Pulau Merah hingga ke kantor Kecamatan Pesanggaran. Isinya, penolakan terhadap perusahaan tambang PT Damai Suksesindo - mitra PT Bumi Suksesindo, keduanya perusahaan tambang.

Belakangan polisi menuduh di dua spanduk itu terpampang logo mirip palu-arit atau simbol komunis. Tuduhan menyebarkan ajaran komunisme pun langsung ditodongkan pada Hari Budiawan dan tiga warga lainnya. 

Kemarin adalah sidang terbaru di mana Jaksa menghadirkan saksi yang katanya melihat ada pengibaran spanduk berlogo palu arit saat aksi warga. Hanya saja selama penyelidikan dan persidangan, belum sekalipun spanduk itu ditunjukkan. Inilah yang memicu kekesalan warga dan pengacara. Apalagi Polsek Pesanggaran mengawal betul ketika spanduk itu hendak dipasang, sehingga warga yakin di spanduk tak ada logo palu arit.

Hari Budianto juga berkukuh spanduk yang dipersoalkan itu sengaja diselundupkan. Ia menunjuk pada kejanggalan penulisan nama perusahaan yang diprotes; di spanduk warga tertera nama PT Damai Suksesindo; sementara di spanduk dengan lambang palu-arit bertuliskan PT Bumi Suksesindo.

Keganjilan-keganjilan ini bisa jadi pijakan bagi Komisi Yudisial untuk  mengawal kasus tersebut. Apalagi Majelis Hakim tak mencecar Jaksa agar menghadirkan bukti spanduk. Hakim juga mengabaikan permintaan pengacara terdakwa yang meminta penangguhan penahanan. Padahal Hari Budiawan merupakan tulang punggung keluarga sehingga penahanannya berpengaruh besar pada perekonomian keluarga. 

Kini, hampir tak ada lagi gerak warga penolak tambang terlihat. Padahal apa yang mereka lakukan sungguh penting: menyelamatkan lahan pertanian agar tak kehabisan air dihisap tambang. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut