Gangguan Jiwa

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 1 dari 7 pekerja mengalami gangguan jiwa.

Rabu, 11 Okt 2017 05:15 WIB

Ilustrasi: Pasung

Ilustrasi: Pasung

Data Riset Kesehatan Dasar pada 4 tahun lalu mencatat 18.800 orang dengan gangguan jiwa berat dipasung. Data terbaru yang diklaim Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pada bulan lalu, dari 26 provinsi penyandang disabilitas mental yang dipasung mencapai 1345 orang. Karenanya Mensos optimistis dua tahun mendatang Indonesia bisa bebas pasung. Sebanyak 6 provinsi, kata dia, kini sudah bebas pasung.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati kemarin mengambil tema kesehatan jiwa di tempat kerja. Pasalnya menurut  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 1 dari 7 pekerja mengalami gangguan jiwa. Dalam skala global, penanganan gangguan jiwa membutuhkan biaya sampai Rp 219 kuadriliun. Bila tak ada upaya sistematis, diperkirakan dalam sepuluh tahun mendatang akan meningkat tiga kali lipat.

Itu sebab kita mesti berlomba dengan waktu agar tak ada lagi pemasungan dan peningkatan jumlah orang dengan gangguan jiwa. Pemerintah mesti melakukan kampanye masif untuk memastikan tak ada diskriminasi apalagi pemasungan  bagi siapa saja yang mengalami gangguan jiwa. Tekanan kerja, lingkungan yang tak mendukung, persaingan ekonomi, hubungan sosial yang diwarnai sebaran berita hoaks  membuat orang rentan menghadapi gangguan kejiwaan.

Kampanye dan penanganan  bisa dilakukan dengan menggandeng pemerintah daerah, organisasi pekerja juga  pengusaha. Ini untuk memastikan setiap gangguan kejiwaan sekecil mungkin bisa segera ditangani agar tak semakin berat. Karena semakin berat gangguannya tentu makin pelik pula penanganannya. Jangan sampai kasus semakin berat sehingga penyandang gangguan jiwa dipasung atau seperti dalam beberapa kasus, memilih mengakhiri hidup.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut