Daur Ulang Air Untuk Atasi Kekurangan Pangan

Pada Pekan Air Internasional tahun ini di Swedia, para ahli internasional memusatkan perhatian pada bagaimana air dapat digunakan kembali.

Senin, 09 Okt 2017 08:00 WIB

Dalam Pekan Air Internasional tahun ini, para ahli internasional memusatkan perhatian pada bagaimana

Dalam Pekan Air Internasional tahun ini, para ahli internasional memusatkan perhatian pada bagaimana air dapat digunakan kembali. (Foto: Ric Wasserman)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Dalam beberapa pekan terakhir, banjir di Nepal, Bangladesh dan India telah membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal. Sementara di belahan bumi lain, kondisi tanah sangat kering sehingga tidak ada yang bisa tumbuh.

Bagi jutaan orang, kelangkaan air adalah masalah sehari-hari. Petani adalah salah satu kelompok yang mengalami pukulan terberat karena tidak punya air bersih untuk bercocok tanam.

Sementara itu, industri menyedot jutaan galon air dan membuangnya kembali dalam keadaan kotor dan tercemar. Jika air itu dikelola dan diolah dengan tepat, kita bisa melihat kebangkitan kembali produksi pangan terutama di Asia.

Koresponden Asia Calling KBR, Ric Wasserman, menyusun laporan berikut dari forum air terbesar di dunia, World Water Week, di Stockholm.

Tanpa air, tidak ada kehidupan. Air adalah sumber daya yang paling berharga di bumi. Meski begitu kadang air sering disia-siakan dan jarang didaur ulang. Sohail Al Nakvi adalah seorang insinyur yang dibesarkan di wilayah Punjab yang subur di Pakistan. Daerah itu kerap disebut “tanah sungai.” Tapi daerah itu kini kering katanya.

“Sayangnya seiring berlalunya waktu, sungai-sungai itu menyusut dan mengering karena kesalahan pengelolaan air. Ada dua masalah: kuantitas dan kualitas air,” kisah Nakvi.

Pada Pekan Air Internasional tahun ini di Swedia, para ahli internasional memusatkan perhatian pada bagaimana air dapat digunakan kembali. Tujuannya agar planet ini dapat mendukung populasinya yang terus bertambah.

Untuk saat ini, tanaman pangan menggunakan 70 persen sumber air tawar dunia. Tapi itu tidak selalu air bersih, seringkali menggunakan kembali air yang sudah terkontaminasi oleh industri atau kotoran.

Di Asia, 80 persen air limbah langsung mengalir ke sungai. Limbah itu mengandung patogen dan bahan kimia. Dan air ini diserap tanaman pangan, ternak dan ikan, dan kemudian dikonsumsi manusia. 

“Di tulang ikan ada logam berat yang masuk ke rantai makanan kita. Orang tidak tahu itu juga bercampur dengan limbah industri berbahaya. Ini situasi yang mengkhawatirkan di masyarakat pedesaan,” tutur Nakvi.

Kontaminasi itu bisa menyebabkan penyakit, mulai dari diare sampai cacat jangka panjang dan kematian.

Petani lebih suka air limbah karena kandungan nutrisinya. Mereka sering tidak menyadari bahwa itu berbahaya dan bahwa mereka membuat konsumen berisiko. Tapi siapa yang harus disalahkan karena pencemaran itu?

Peneliti air, Jenny Grönvall, mengatakan industri tekstil adalah salah satu pelanggar terburuk, terutama di India. “Limbah dari industri tekstil paling banyak mencemari air. Beberapa senyawa kimia yang digunakan sangat beracun,” jelas Grönvall.

Jenny mengatakan ada solusi, yang memungkinkan petani menanam makanan dengan lebih aman. “Jadi, kita punya teknologi dan infrastruktur bagus serta cukup banyak kemampuan. Tapi itu perlu digunakan.”

Dia mengatakan tanggung jawab untuk mengolah air limbah terletak pada industri.


Saya penasaran apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi dan menggunakan kembali air limbah dengan benar. Kalau ini bisa dilakukan, maka petani dan konsumen di seluruh dunia akan diuntungkan.

Jadi, saya naik bus dengan sekelompok ahli air ke pabrik farmasi yang memproduksi sekitar 10 miliar tablet per tahun. Kami mau melihat fasilitas pengolahan air mereka.

Emisi air limbah dari pabrik ini 99,8 persen bebas dari polutan. Ini memang fasilitas yang canggih. Jamur, bakteri dan karbon aktif digunakan untuk memisahkan sampah organik dari air. Pemisahan kimia menghilangkan fosfor berbahaya dan zat besi sulfat.

Jacob Lund, adalah direktur komunikasi di pabrik tersebut: “Kami memiliki tanggung jawab sebagai produsen obat-obatan dan bahan farmasi aktif sehingga kami tidak membahayakan lingkungan.,” jelas Lund.

Perusahaan ini juga punya pabrik farmasi di 17 negara lainnya, Namun Lund tidak mau memberi tahu kami standar pengolahan air seperti apa yang dipakai di tempat lain. 

Biaya pengolahan limbah industri sangat mahal karena itu ada perusahaan tidak mau repot dan mengambil jalan pintas.

Tapi itu harus menjadi prioritas, kata Wakil Direktur Tanah dan AIr WHO, Olcay Unver. Terlepas dari semua teknologi yang ada, saran terbaik untuk menghemat air, kata Unver adalah berhenti mengkonsumsi daging merah.

“Untuk menghasilkan satu kilo daging merah Anda menggunakan sekitar sepuluh ton air, sekitar 10 ribu kilo air,” kata Unver.

Jika kita melindungi air tawar dan menggunakan teknologi yang tersedia untuk mendaur ulang air limbah, upaya menghapus kelaparan akan semakin dekat.


 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut