[Advertorial] Kopi Hutan Selamatkan Bumi, Sejahterakan Petani

Menurut Ridwan Sujatmoko, salah satu Founder Cenghar Coffee yang kini menjadi mitra para petani, harga kopi kondisi ceri Rp 6.000 per kg sementara dalam bentuk green bean siap sangrai Rp 130 ribu / kg

Jumat, 13 Okt 2017 17:06 WIB

Para petani kopi di Gunung Puntang, Bandung Jawa Barat, saat ini mampu mengantongi penghasilan 60-70 juta per tahun, naik nyaris 10 kali dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang hanya Rp. 6-8 juta. Capaian ini antara lain berkat upaya Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Hadi Daryanto, yang peduli terhadap nasib para petani tersebut. Ia memberdayakan para petani sejak tanam hingga siap menjual hasil panen. Awalnya petani kopi Bandung hanya menjual kopi dalam bentuk buah atau disebut ceri. Menurut Ridwan Sujatmoko, salah satu Founder Cenghar Coffee yang kini menjadi mitra para petani, harga kopi kondisi ceri Rp 6.000 per kg sementara kopi dalam bentuk green bean siap sangrai Rp 130 ribu per kg.

Sukses petani Gunung Puntang dibangun dengan jalan unik. Kopi Gunung Puntang bukan kopi biasa, yang dipanen dari kebun-kebun. Para petani Gunung Puntang menamam kopi di hutan. Hasilnya tak hanya kopi nikmat. “Juga menghasilkan 16 ton oksigen, jadi baik juga buat bumi. Yang ketiga, kopinya bisa dinikmati, maka tagline ibu Menteri (Menteri KLHK-red) di situ nikmati kopinya buat bumi dan manusia, maka saya lebih baik beli kopi saja,” kata Hadi.  Menurut Hadi kopi Gunung Puntang ini benar-benar mengubah gaya hidupnya. Hadi yang semula tak doyan kopi, akhirnya bisa menikmati aroma dan rasa khas kopi Bandung di Kafe Cenghar.

Cerita tentang aroma kopi Puntang atau Kopi Cenghar, kopi hutan yang menyelamatkan bumi, menyumbang oksigen dalam jumlah besar, sekaligus menyejahterakan petaninya, lalu dibawa ke mana-mana. “Katanya kopi Cenghar jadi trending topic. Kopi yang benar ya di sini kalau di Bandung,”imbuhnya. Kini hampir semua wilayah gunung di Jawa Barat tumbuh kopi.

Menurut Hadi Indonesia perlu banyak membuka cenghar-cenghar lain, di berbagai wilayah, sehingga para petani kopi hutan bisa bertemu dengan pembeli baru.”Jadi kita bikin yang banyak, kita kita bina di Sumatera Barat, Lampung, dan NTT. Jumlahnya sudah ratusan dan mereka senang,” lanjut Hadi.  Kopi hutan bahkan membuat kopi Indonesia lebih kompetitif karena ada nilai lebih untuk keselamatan bumi. “Dulu kan orang kalau nanam kopi di perkebunan, itu kan tidak menarik. Tapi sekarang kita besok kerja sama denga skye, dia akan bawa tagline di climate change.” Oleh sebab itu, cerita tentang nilai lebih kopi hutan terus diserukan. Sebuah tagline peduli perubahan iklim dari dunia perkopian telah dibuat. “Coffee for the Earth”.

Editor:Paul M Nuh

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi