PBB: Kelaparan Meningkat Berkaitan dengan Perubahan Iklim

Perubahan iklim merusak produksi tanaman pokok seperti gandum, beras dan jagung di daerah tropis dan subtropis, yang diperkirakan akan memburuk ketika suhu menjadi lebih ekstrim.

Rabu, 12 Sep 2018 21:37 WIB

Ilustrasi: Logo PBB.

KBR - Laporan Keadaan Keamanan dan Gizi PBB tahun 2018 menyebut perubahan iklim berefek negatif bagi pertanian global dan memicu penambahan jumlah orang lapar di seluruh dunia. Temuan itu dirilis, Selasa (11/9/2018).

Dari 821 juta orang yang kelaparan, sebanyak satu dari sembilan di antaranya mengalami kekurangan gizi. Gambaran itu terjadi pada 2017. Jumlahnya naik dari 815 juta pada 2016. Fakta itu pula yang lantas membuat PBB mengusung misi untuk memberantas kelaparan di dunia pada 2030.

Kendati ada kemajuan, namun pada tahun lalu upaya mengatasi pelbagai bentuk kekurangan gizi itu masih terbatas. Seperti pengerdilan anak (di mana anak-anak tidak tumbuh dengan baik karena kekurangan gizi) dan obesitas dewasa.

"Kelaparan telah meningkat selama tiga tahun terakhir, kembali ke tingkat dari satu dekade lalu," demikian pernyataan dari badan PBB yang bertanggung jawab atas kelaparan dan kesehatan.

"Pembalikan ini dalam proses mengirimkan peringatan yang jelas bahwa lebih banyak yang harus dilakukan dan segera jika tujuan pembangunan berkelanjutan Zero Lapar akan tercapai pada tahun 2030."

PBB mengatakan situasi di Amerika Selatan dan sebagian besar kawasan Afrika kian buruk. Sementara kekurangan gizi di Asia melambat secara signifikan.

Jumlah orang yang kurang gizi di sub-Sahara Afrika meningkat dari 181 juta pada 2010 menjadi hampir 222 juta pada 2016. Atau meningkat 22,6% dalam enam tahun. Berdasarkan proyeksi saat ini, mungkin telah tumbuh menjadi lebih dari 236 juta pada 2017.

Efek dari variabilitas iklim pada pola curah hujan dalam musim pertanian, dan iklim ekstrem seperti kekeringan dan banjir juga jadi salah satu pendorong meningkatnya kelaparan. Selain juga, terjadinya konflik dan perlambatan ekonomi.

"Jika kita ingin mencapai dunia tanpa kelaparan dan kekurangan gizi dan segala bentuknya pada 2030, adalah penting jika kita mempercepat dan meningkatkan tindakan untuk memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptif sistem pangan serta mata pencaharian masyarakat dalam menanggapi variabilitas iklim ekstrem," ujar lima pemimpin badan PBB.

Perubahan iklim merusak produksi tanaman pokok seperti gandum, beras dan, jagung di daerah tropis dan subtropis. Kondisi ini diperkirakan memburuk ketika suhu menjadi lebih ekstrim.

Jumlah orang yang kurang gizi cenderung lebih tinggi di negara-negara yang sangat rentan terhadap iklim ekstrem.

Meningkatnya suhu, pada awal atau akhir musim hujan dan distribusi curah hujan yang tidak merata dalam semusim memengaruhi produksi makanan. Efek lainnya kenaikan harga pangan dan kerugian dalam pendapatan petani miskin.

Hampir 151 juta anak di bawah usia 5 tahun terlalu pendek untuk usia mereka, karena kekurangan gizi pada 2017. Meski jumlah itu masih lebih tinggi pada 2012 yakni 165 juta orang. Secara global, Afrika dan Asia menyumbang 39% dan 55% dari semua anak stunting (masalah kurang gizi kronis).

Jumlah anak stunting di Afrika meningkat, sedangkan di Asia justru prevalensi penurunan relatif besar.

Pada 2017, 50,5 juta anak balita terpengaruh oleh pemborosan. Yang artinya, mereka kekurangan berat badan untuk anak seusia mereka. Dengan 9 % di Afrika Barat dan 6,3% di Afrika Selatan serta 15,9% sangat tinggi di Asia Selatan, menurut catatan UNICEF.

Laporan kelaparan PBB menelurkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya seruan untuk beralih ke pertanian yang peka terhadap kebutuhan gizi dan sistem pangan yang mampu menyediakan makanan yang aman serta berkualitas tinggi. Hal lain yang bisa dilakukan, yakni meningkatkan upaya membangun ketahanan iklim melalui kebijakan adaptasi serta mitigasi. Ditambah lagi dengan, rencana pengurangan risiko bencana.



Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.