Lebih dari 1.500 Satwa Liar Dilindungi Dijual Online di Facebook

"Ini adalah masalah global dan membutuhkan solusi global, termasuk meningkatkan penegakan hukum, meningkatkan kesadaran dan mengurangi permintaan untuk produk-produk satwa liar.”

Rabu, 12 Sep 2018 13:03 WIB

Penjualan online hewan langka di Thailand. (Foto: AP)

KBR - Sebuah kelompok pemantau satwa liar, TRAFFIC, menemukan 1.521 hewan liar dilindungi dijual secara online di Thailand melalui grup Facebook. Jumlah ini merupakan hasil pemantauan selama kurang dari sebulan pada 2016. Mereka mengungkapkan ada 12 grup Facebook yang melakukan perdagangan tersebut.

TRAFFIC kembali meneliti pada tahun ini. Lantas menemukan 10 dari 12 grup Facebook itu masih aktif hingga Juli lalu, dengan satu di antaranya menjadi grup tertutup dan tidak bisa dilihat. Namun, jumlah anggota grup keseluruhan meningkat dua kali lipat, dari 106.111 menjadi 203.445 akun.

Dalam laporan disebutkan, banyak hewan-hewan eksotis yang diiklankan untuk dijual di Facebook, seperti burung rangkong atau enggang yang langka. Harga burung itu dijual dengan harga mencapai Rp4 juta. Harga hewan akan semakin mahal, jika semakin langka dan dilindugi.

TRAFFIC menemukan 200 spesies berbeda yang ditawarkan untuk dijual secara online, dan 95 di antaranya merupakan reptil yang tidak dilindungi oleh hukum Thailand  karena mereka bukan satwa endemik di negara tersebut. Hal ini membuat perdagangan hewan semakin mudah dijalankan, dengan identitas pembeli dan penjual yang tetap terjaga (anonym), tanpa diketahui oleh lembaga otoritas.

"Pertumbuhan perdagangan satwa liar online hanya akan menambah tekanan lebih lanjut pada spesies endemik terancam yang saat ini tidak memiliki perlindungan hukum atau peraturan," kata Kanitha Krishnasamy, direktur regional TRAFFIC di Asia Tenggara, dalam Daily Mail Senin (10/9/2018).

Menurutnya perlu ada hukum di Thailand yang melindungi spesies-spesies itu, sehingga otoritas bisa bertindak tegas untuk mengatasi masalah ini. TRAFFIC juga merekomendasikan agar otoritas Thailand menjalin hubungan kerja yang erat dengan Facebook dan mengembangkan strategi bersama untuk mengatasi masalah ini.

Facebook menanggapi masalah ini dan menyampaikan kepada AP kalau penjualan atau perdagangan spesies yang terancam punah tidak diizinkan. Mereka berkomitmen untuk bekerja dengan TRAFFIC dan otoritas penegak hukum guna membantu mengatasi perdagangan satwa liar ilegal di Thailand.

Perdagangan ilegal satwa liar bukanlah hal baru di Thailand. Otoritas Thailand sering mengumumkan mengenai perburuan liar. Pada 2013, Thailand dianggap memiliki pasar gading gajah terbesar di dunia. Sejak itu pemerintah mulai membuat undang-undang untuk menangani masalah tersebut.

Cath Lawson, salah satu penasehat di WWF , mengatakan kepada BBC, perdagangan ilegal hewan melalui situs web merupakan masalah global yang sangat mengkhawatirkan. "Ini adalah masalah global dan membutuhkan solusi global, termasuk meningkatkan penegakan hukum, meningkatkan kesadaran dan mengurangi permintaan untuk produk-produk satwa liar."




Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.