India Masih Mencari Pembunuh Jurnalis yang Tak Kenal Takut

Jurnalis India yang tak kenal takut, Gauri Lankesh, dibunuh.

Senin, 25 Sep 2017 10:09 WIB

Mengenang jurnalis-jurnalis India yang tewas karena sikap mereka yang tak kenal kompromi. (Foto: Bis

Mengenang jurnalis-jurnalis India yang tewas karena sikap mereka yang tak kenal kompromi. (Foto: Bismillah Geelani)

Dalam beberapa pekan terakhir, dua jurnalis India dibunuh dengan brutal. Seorang repoter berita politik dipukuli sampai mati saat meliput kerusuhan politik di Timur Laut negara itu pada 21 September. 

Dua pekan sebelumnya, jurnalis India yang tak kenal takut, Gauri Lankesh, dibunuh. Dia dikenal kritis terhadap kelompok nasionalis Hindu dan pemerintah yang berkuasa.

Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, banyak yang menyalahkan kelompok ekstremis Hindu atas kematiannya itu.

Jurnalis senior Gauri Lankesh sedang berbicara di sebuah pertemuan terbuka di New Delhi. Dia mengungkapkan kekhawatiran soal menyusutnya ruang untuk perbedaan pendapat di negara bagian asalnya, Karnataka, dan India pada umumnya.

Itu terjadi pada bulan Maret tahun ini. Lankesh mengingat kembali beberapa pemikir rasionalis yang belum lama terbunuh karena pandangan mereka yang tidak kompromis. Dia tidak tahu dia akan menjadi yang berikutnya.

Awal bulan September, Gauri Lankesh yang berusia 55 tahun ditemukan tergeletak bersimbah darah di luar rumahnya di kota bagian selatan, Bangaluru.

Sunil Kumar, Komisaris Polisi Bangaluru, mengatakan sebuah kamera CCTV di rumah Lankesh merekam pembunuhan mengerikan tersebut.

“Rekaman itu menunjukkan satu orang menembaki dia saat  sedang berjalan menuju rumahnya. Saat dia ambruk akibat terluka, orang ini berjalan pergi. Orang ini terekam kamera tapi dia memakai helm yang menutupi seluruh wajahnya,” jelas Kumar.

Berita tentang pembunuhan Lankesh menyebar dengan cepat. Di beberapa kota, orang-orang turun ke jalan, mengutuk pembunuhan itu dan menuntut pertanggungjawaban.

Sandhia Chander, jurnalis berusia 32 tahun, bergabung dalam demonstrasi di New Delhi.

“Ini situasi yang menakutkan bagi jurnalis untuk bisa bekerja. Kami kerap dilecehkan dan diserang di media sosial tapi sekarang bahaya seperti penembakan, sudah sampai di depan pintu kami,” tutur Chander. 

“Sudah saatnya jurnalis di negeri ini bersatu dan menuntut agar pemerintah memberi hak kebebasan berbicara dan berekspresi sepenuhnya kepada jurnalis dan memungkinkan kami melaksanakan tugas dengan perlindungan penuh.”

Gauri Lankesh dikenal karena pandangannya yang vokal, liberal dan berseberangan dengan pemerintah. Dia gigih mengkritik aktivitas politik nasionalis Hindu dan menggunakan surat kabar mingguannya yang berbahasa Kannad, Gauri Lankesh Patrike, untuk mengadvokasi kelompok Dalit dan komunitas terpinggirkan lainnya.

Serangannya yang pedas terhadap kelompok ekstremis Hindu dan pemerintah BJP membuatnya dikagumi sekaligus dimusuhi. Saat ancaman meningkat, teman-teman Lankesh seperti KM Chetanya mencoba membujuknya agar lebih lunak.

“Dalam 3-4 tahun terakhir serangan menjadi sangat ganas. Tapi dia mengatakan tidak menyakiti siapapun, dia tidak menganjurkan kekerasan apapun, dia hanya berbicara tentang pikirannya dan dia punya hak untuk mengungkapkan isi pikirannya. Jadi dia bilang tidak mungkin dia menahan apa yang dia pikir benar,” ujar Chetanya. 

Polisi belum menemukan petunjuk tentang pembunuh Lankesh tapi banyak orang punya kecurigaan sendiri. Ekstremis Hindu merayakan pembunuhannya di media sosial, memaki dan menghina dia bahkan setelah kematiannya.

Jurnalis senior Siddharth Vardarajan mengatakan bagi banyak orang hubungannya terlihat jelas.

“Ada rasa bersalah dari orang-orang yang menarik pelatuk dan mengatur pembunuhan itu. Ada rasa bersalah orang-orang yang senang dia meninggal dan orang-orang ini tidak menyembunyikan apa yang mereka percaya dan menunjukkan kegembiraan lewat media sosial hari ini. Jadi tidak sulit bagi orang yang berpikiran waras untuk menghubungkan orang-orang ini,” jelas Vardarajan.

Partai oposisi utama mengatakan rencana pembunuhan itu berasal dari tingkat yang lebih tinggi. Mereka menyalahkan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa dan organisasi induknya Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Keduanya adalah kelompok Nasionalis Hindu.

“Ini adalah filosofi. Siapa pun yang bicara menentang ideologi BJP dan RSS, akan ditekan, dipukuli, diserang dan bahkan dibunuh. Gagasannya hanya ada satu suara di negeri ini” kata Rahul Gandhi, Wakil Presiden partai oposisi, Kongres Nasional India.

Tapi BJP berbalik dengan menyalahkan Partai Kongres yang menguasai pemerintahan di negara bagian Karnataka. Yogesh Verma adalah juru bicara BJP.

“Jika dia adalah seorang jurnalis pemberani dan mengungkapkan pandangannya tanpa rasa takut, mengapa pemerintah negara bagian tidak melindunginya? Mengapa  dia tidak dilindungi? Ini hanyalah upaya untuk mencemarkan nama baik kelompok sayap kanan dan menggagalkan penyelidikan,” kata Verma.

Siapa pun yang membunuh Gauri Lankesh, faktanya tetap bahwa India adalah salah satu negara di dunia yang paling berbahaya bagi jurnalis.

Menurut pemantau media nirlaba, The Hoot, ada 54 kali penyerangan terhadap jurnalis India dalam kurun kurang dari dua tahun. Dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2017, India berada di peringkat 136 dari 180 negara, di bawah negara tetangga Nepal dan Afghanistan.

“Sebagai orang India saya merasa malu. Ternyata Afghanistan yang dilanda perang berada di atas kami. Jurmalis lebih aman di Afghanistan yang dilanda perang daripada di negara demokrasi, di India. Tidak mungkin ada komentar buruk mengenai keadaan di sini,” keluh Analis politik Javed Ansari.

Tapi jurnalis senior Siddharth Varadarajan percaya, jurnalis sendiri, setidaknya sebagian, bertanggung jawab atas memburuknya situasi kebebasan pers di India.

“Dalam situasi saat ini, saluran-saluran besar media India percaya, lebih penting bagi jurnalis untuk mendukung apapun sikap pemerintah dan menyerang orang-orang yang mengkritik pemerintah. Jika ini menjadi budaya media, maka saya khawatir orang-orang seperti Gauri Lankesh akan menonjol. Dan akan mudah bagi musuh-musuh demokrasi untuk memilih dan menembak mereka, seperti yang terjadi pada Gauri,” kata Vardarajan.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut