[SAGA] Ketika Disabel Susuri Trotoar Jakarta

Hal yang sama juga dialami penyandang tuna netra, Trias Widiastuti. Kata dia, guiding block –yaitu jalan pemandu berwarna kuning dan bertekstur, nyaris tak teraba lagi, dimakan usia.

Jumat, 22 Sep 2017 17:28 WIB

Disabel menguji trotoar di Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat. Foto: Ade Irmansyah/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Sejumlah disabel dari Gerakan Aksesbilitas Umum Nasional (GAUN) tengah bersiap-siap. Mengenakan rompi dan topi berwarna hijau, mereka menuju Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat –atau lebih tenar dengan sebutan Jalan Sabang. Itu sore, para disabel bakal melintasi jalur pejalan kaki untuk disabilitas, yang dibangun Pemprov DKI Jakarta.

Gerakan para disabel itu dinamai Susur Trotoar. Mereka berharap dengan menyusuri secara langsung, bisa diketahui apakah trotoar sudah ramah. Pasalnya, sejak beberapa bulan terakhir pemda lagi gencar-gencarnya memperlebar dan memperbaiki trotoar. Bahkan, sejak Agustus hingga September ini, Pemprov menerapkan Bulan Tertib Trotoar.

Kalau anda sempat perhatikan, beberapa trotoar di ibukota dikawal Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Seperti di Rawamangun, Jakarta Timur dan Diponegoro, Jakarta Pusat, agar tak dijejali pedagang kaki lima yang saban sore nongkrong menjajakan dagangan.

KBR mengikuti aksi Susur Trotoar itu. Tapi, begitu sampai jejeran mobil mengepung trotoar sehingga sulit untuk lewati. Bukan salah pemilik mobil atau motor juga, menutupi trotoar. Sebab, daerah tersebut memang parkiran resmi.

Yogi Matsuni, penyandang tuna netra, mengaku tak kaget. Pria berusia 44 tahun ini malah mempertanyakan program pemda.

"Artinya ini bukan hanya tidak akses ya, tetapi tidak ramah untuk berjalan. Karena kalau kita perhatikan di seberang sana, dipakai juga untuk parkiran," ucap Yogi.

Hal yang sama juga dialami penyandang tuna netra, Trias Widiastuti. Kata dia, guiding block –yaitu jalan pemandu berwarna kuning dan bertekstur, nyaris tak teraba lagi, dimakan usia.

"Di situ tidak ada guiding block saat saya raba pakai sepatu, harusnya terasa kalau ada. Padahal katanya Pemda DKI sudah membenahi struktur untuk pejalan kaki disabilitas," keluh Trias.

Tak hanya penyandang tuna netra yang kesulitan. Seorang penyandang disabilitas menggunakan kursi roda, Catur Sigit Nugroho, mengaku sampai harus bertaruh nyawa tiap kali berada di jalan raya. Sebab dia harus bersaing dengan kendaraan yang acap menyalip.
 
Selain itu, beberapa jalur trotoar tak memiliki sisi miring –yang digunakan untuk memudahkan mereka menuruni trotoar. Seperti di Jalan Sabang ini.

"Saya sendiri merasa miris. Sudah ada guiding block tetapi tidak bisa dilalui kursi roda karena ada portal atau penghalang. Jadi terlalu sempit," tutur Catur.

Ketua Gerakan Aksesbilitas Umum Nasional (GAUN), Ariani Soekanwo, sempat menemui juru parkir. Dia protes karena guiding block untuk tuna netra dipakai tempat parkir.

"Itu kan ada ubin pemandu pak untuk jalan tuna netra kenapa malah dibuat tempar parkir?" tegurnya.

Sepanjang 2017, Dinas Bina Marga DKI Jakarta membangun trotoar sepanjang 80 kilometer. Trotoar itu dibangun di lima wilayah kota administratif.

Beberapa jalur pedestrian yang dibangun antara lain Kawasan Istiqlal dan Jalan Veteran (Jakarta Pusat); Jalan Mahakam, Jalan Barito, dan Jalan Kyai Maja (Jakarta Selatan); Jalan Jatinegara Barat dan Jalan Jalan Jatinegara Timur (Jakarta Timur); Kawasan Kota Tua dan Sunter (Jakarta Utara); serta Jalan Kyai Tapa (Jakarta Barat).

Dari target 80 kilometer, yang tercapai sejauh ini baru 35 persen atau 28 kilometer. Diharapkan pembangunan semua trotoar rampung pada Desember mendatang. Adapun total anggaran untuk pembangunan trotoar mencapai Rp412 miliar yang berasal dari APBD 2017.

Di akhir Susur Trotoar, Ketua Gerakan Aksesbilitas Umum Nasional (GAUN), Ariani Soekanwo, trotoar di Jakarta masih jauh dari ramah dan nyaman untuk disabel. Itu mengapa, baginya penting melibatkan disabel merencanakan program semacam ini.

"Kami kan juga harus memantau dan mencek tapi kendala biaya. Jadi itu kenapa kami harus dilibatkan, terutama dalam mengawal dan mengujicoba fasilitas yang sudah dibangun ini," tegas Ariani.

Catatan lain, pemda wajib mengedukasi publik menjaga pedestrian dan segala fasilitas penunjangnya. Dan, memastikan trotoar tak kembali disalahgunakan untuk berdagang.



Editor: Quinawaty

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut