Siapa yang tau di mana letak Museum Radyapustaka? Yang menjawab Surakarta, Jawa Tengah, betul banget! Nah, saat ini pengelola museum berencana mencetak ulang naskah-naskah kuno koleksi museum tertua di Indonesia itu.

Pengelola Museum Radyapustaka juga akan mempublikasikan ke masyarakat. Saat ini proses digitalisasi ribuan naskah kuno koleksi museum masih berlangsung. Ketua Komite Museum Radyapustaka, Pak Purnomo Subagyo bilang, digitalisasi atau menyalin naskah kuno ke format digital dengan teknologi internet akan mempermudah akses masyarakat. Selain itu juga akan menjadikan koleksi museum tersebut sebagai bahan akademis atau penelitian. Perubahan naskah kuno menjadi naskah digital nanti akan disusul dengan mencetak ulang dan mempublikasikan ke masyarakat.

“Naskah-naskah kuno ini akan kita digitalisasi, kita translate, kemudian akan kita cetak ulang dan kita publikasikan kepada masyarakat. Semua naskah kuno. Biar semua orang tahu kalau di Museum ini punya naskah kuno, ilmu sejarah peradaban masyarakat..kemarin hanya dengan alat sederhana saja, kita scan naskahnya atau kita foto satu persatu lembaran naskahnya. Kita baru 10 persen mendigitalisasi naskah kuno. Saya maunya nanti ya naskah kuno yang masterpiece saja yang disalin ke format digital. Tidak semuanya,” kata Pak Purnomo.

Wah, kebayang deh pekerjaan ini butuh tingkat ketelitian yang tinggi. Ya ngga Sobat Teen.
 
Pak Purnomo juga mengungkapkan, ada ribuan koleksi naskah kuno di museum ini yang kondisinya memprihatinkan dan rusak. Perpustakaan Museum Radyapustaka menyimpan 1500 naskah kuno yang ditulis tangan maupun cetak. Naskah kuno tersebut ada yang menjadi masterpiece berusia lebih dari 300 tahun dan menggunakan aksara jawa kuno. Ada kakawin Ramayana yang ditulis pada tahun
1783 di Solo dan tulisan berhias prada emas berkisah tetang Ramayana Jawa Kuno. Koleksi lain Serat Joesoef yang dibuat tahun 1729 yang berisi sejarah Islam tentang Nabi Yusuf. Kemudian ada Babad Samkok yang ditulis tahun 1890 yang berisi cerita Roman Tiga Negara Sejarah Tiongkok. Naskah tersebut ditulis dengan aksara Jawa kuno dan tulisan tangan.

Wah, banyak banget ya kisah sejarah yang kita punya. Buat yang tertarik belajar sejarah lebih jauh, bisa juga memanfaatkan naskah-naskah kuno ini. Ya kan?



Editor: Fia Anwar


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!