[SAGA] Dwi Puspita: 'Mendobrak Stereotip Dalang'

Sejak itu, nama panggungnya Nyi Dwi Puspita Ningrum, tenar di Purworejo sebagai satu-satunya dalang perempuan.

Selasa, 15 Agus 2017 12:25 WIB

Dwi Puspita Ningrum, dalang perempuan di Purworejo, Banyumas. Foto: Istimewa

KBR, Purworejo - Darah seni mengalir dalam diri Dwi Puspita Ningrum. Lahir dari seorang pedalang Ki Priyo Widodo asal Desa Kemranggen Kecamatan Bruno, Purworejo, Puspita –begitu ia disapa, akhirnya mengikuti jejak sang ayah.

Kecintaannya pada kesenian Jawa ini dimulai kala ia masih bocah. Dulu, dia kerap ikut ayahnya mentas. Menyaksikan ayahnya menggerakkan tokoh-tokoh wayang, dia pun terpukau dan memutuskan untuk menjadi dalang.

“SD mulai senang main wayang, SMP diajari main dalang. Kemudian SMP masuk ke SMKI Yogyakarta ambil jurusannya pedalangan,” tutur Puspita ketika ditemui di rumah dinasnya di Purworejo.

Perempuan kelahiran Desember 1986 ini tak bisa lepas dari wayang. Puspita remaja kemudian ingin menjajal kemampuannya. Pengalaman pertama menjadi dalang, kira-kira saat usia 15 tahun. Dia menggantikan sang ayah, meski tak lama.

“Sebenarnya dulu pentas itu sebelum masuk SMA, menggantikan bapak meski hanya 15 menit,” ujarnya.

Bungsu dari dua bersaudara ini sadar, menjadi dalang tak gampang. Apalagi di Purworejo, semua dalang adalah laki-laki. Tapi, hasratnya pada kesenian ini sulit ditolak. Maka, Puspita remaja memutuskan memperdalam ilmu dalang ke Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta atau kini dikenal SMK Negeri 1 Kasihan. Saat itu, dia sempat diejek teman-temannya.

“Saat SMP mau masuk ke jurusan pedalangan banyak teman-teman mencibir ‘ah perempuan ngapain sih belajar jadi dalang'. Tapi karena senang ya jalan terus.”

Tiga tahun Puspita belajar di SMKI Yogyakarta. Dia pun merasakan bagaimana ruwetnya mendalang. “Memang kesulitan di suara, karena tokoh wayang kebanyakan pria. Jadi harus memainkan karakter suara pria. Belum lagi mempelajari vokal, sastra, iringan musik, kemudian menggerakkan wayang disertai geprakkan.”

Pada 2004, Puspita lulus dari SMKI Yogyakarta –seni pedalangan. Dan, dia adalah satu-satunya perempuan dari tujuh siswa yang ada. Setelahnya, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Muhammadiyah Purworejo –mengambil jurusan Sastra Jawa.

Sementara untuk mengasah kemahirannya mendalang, dia mentas dari panggung ke panggung. Misal di kampus Muhammadiyah, diundang ke Jakarta, sampai ke Pekanbaru, Riau. Dia pun tak rikuh menjalani profesi barunya.

“Kalau saya yang menjalani enjoy tapi kalau masyarakat mungkin penasaran kayak apa sih dalang perempuan? Karena kebanyakan dalang pria. Mereka ingin lihat bagaimana kemampuan saya, bagus atau tidak. Syukur selama saya mentas yang menyaksikan atau menonton banyak,” ujar Puspita.

Sejak itu, nama panggungnya Nyi Dwi Puspita Ningrum, tenar di Purworejo sebagai satu-satunya dalang perempuan. Hanya saja, menjadi seniman tak betul-betul menjamin masa depannya.

Tapi karena ingin membagi ilmunya pada generasi muda, Puspita akhirnya memilih mengabdikan diri menjadi guru dan mengajar kesenian karawitan di SMA Negeri 7 Purworejo. Di sekolah itu, ibu satu anak ini mengajar bahasa Jawa dan menjadi penanggungjawab ekstrakurikuler Karawitan Ngesti Budaya. Total ada 30 anak kelas X yang ikut.

Adib Izza Alfarobi, siswa kelas X, bercerita sangat mengagumi sang guru. Dia juga pernah melihat aksi Puspita menjadi dalang. Dan, baginya Puspita tak beda dengan dalang pria.

“Pernah lihat Ibu Puspita manggung di Universitas Purworejo. Keren. Ibu Puspita kalau mendalang lebih bisa dicerna, cepat diserap,” ucap Adib.

Begitu pula dengan Annisa Ariadna, siswi kelas X. Meski belum berkeinginan mengikuti jejak sang guru, ia bangga ada perempuan menjadi dalang. “Kalau itu sih karena saya sendiri belom ada niatan. Kalau dalang hanya suka nonton.”

Kegiatan Puspita juga diisi dengan latihan karawitan di Padepokan Diakonia Mitra Kinasih GKJ Purworejo. Saban Rabu malam, ia bersama seniman lain berlatih. Sesekali, Puspita membantu pihak Gereja Kristen Jawa (GKJ) bermain karawitan di gereja.

“Meskipun dia menyanyikan lagu gereja di gereja tidak masalah. Beberapa teman muslim juga dan itu tidak masalah,” teranga Pendeta Lukas Eko Susanto.

Kembali ke Puspita. Dia akan terus mendalang dan mencari bibit-bibit baru dalang perempuan.

“Mungkin anak saya. Karena di rumah ada wayang kecil untuk mainan. Anak saya biasakan mendengar atau melihat dahulu,” tutup Puspita.


Simak video kisah anak-anak muda inspiratif lainnya di kbr.id/anakmuda  

Editor: Quinawaty

Baca juga:

Sabrina Bensawan: 'Berbagi Tak Perlu Menunggu Kaya'
Putry Yuliastutik: 'Mengawinkan Konfeksi dengan Teknologi'
Iki Yosan: 'Mendongeng Demi Menghapus Trauma'
Dwi Puspita: 'Mendobrak Stereotip Dalang'
Hajad Guna: 'Melantangkan Suara dari Kampung ke Dunia'
Safprada Rizma: 'Tularkan Virus Literasi Lewat Pondok Inspirasi
Merry Andalas: 'Menjaga Rinjani dengan Gaharu'
Lukman Hakim: 'Berhenti Merokok di Bank Sehat'
Akhmad Sobirin: 'Manisnya Gula Semut dari Semedo'  
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau