Waspada Karhutla

Petugas terpaksa menggunakan cara manual lantaran mobil pemadam tak bisa masuk. Beruntung setelah 4 jam, api berhasil dipadamkan sehingga tak keburu meluas.

Jumat, 06 Jul 2018 05:45 WIB

Ilustrasi: Kebakaran hutan dan lahan

Ilustrasi: Kebakaran hutan dan lahan (foto: antara)

Memasuki musim kemarau, pemerintah meluncurkan layanan peringatan dini bahaya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melalui pesan singkat sms blast. Dengan layanan ini warga yang tinggal di kawasan rawan bisa bersiap manakala terjadi kebakaran. Semakin awal kebakaran diketahui, tentu semakin mudah diatasi dan dikurangi dampaknya.

Sayangnya, sistem ini punya kelemahan. Tak semua daerah rawan Karhutla memiliki jaringan selular yang baik. Pun dengan akses ke lokasi yang kerap kali tak mudah ditempuh untuk memadamkan api. Ini artinya butuh metode lain yang lebih mustajab untuk memastikan Karhutla tak meluas.

Ambil contoh kebakaran hutan lindung di Situbondo, Jawa Timur beberapa hari lalu. Di lokasi yang relatif sinyal selular cukup baik saja pemadaman api tak bisa segera dilakukan. Kendalanya lokasi. Petugas terpaksa menggunakan cara manual lantaran mobil pemadam tak bisa masuk. Beruntung setelah 4 jam, api berhasil dipadamkan sehingga tak keburu meluas.

Kendala semacam itu bukan tak bisa diantisipasi. Urusan sinyal bisa dicoba dengan pemancar darurat. Kemudian lokasi, bisa memodifikasi motor atau sepeda sehingga memungkinkan melalui jalan-jalan setapak di hutan atau lahan.

Mumpung belum terjadi Karhutla, persiapan  mesti segera dipergencar. Khususnya daerah yang sudah dinyatakan siaga darurat seperti  Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, dan Sumatera Selatan. Sedia payung sebelum hujan, menyiapkan pemadam sebelum kebakaran terjadi.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.