Jokowi Pertimbangkan 5 Nama Untuk Jadi Cawapres

"Kan tadi lagi digodok bilangnya. Belum mateng."

Rabu, 11 Jul 2018 17:55 WIB

Presiden Joko Widodo menyapa para bupati yang hadir saat silaturahmi di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/7). (Foto: ANTARA/ Puspa P)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengatakan masih harus mengkomunikasikan calon wakil presiden yang dipilihnya dengan partai-partai pendukung. Kata dia, dari 10 nama cawapres, saat ini tinggal 5 nama yang tengah dipertimbangkan Jokowi.

"Dalam penggodokan itu kami pun harus bicara dengan banyak partai yang telah memberikan dukungan kepada kami. (Dari) 10 (nama) mengerucut ke 5 (nama)," kata Jokowi di Istana Negara, Rabu (11/7/2018).

Kelima nama tersebut berasal dari pelbagai latar belakang, partai maupun non-partai. Jokowi menambahkan, nama cawapres yang dipilihnya akan diumumkan pada saat yang tepat.

Ketika ditanya apakah pemilihan cawapresnya menunggu pergerakan calon penantangnya Prabowo, Jokowi hanya menjawab diplomatis.

"Ini baru proses digodok. Airnya masih nunggu panas, sampai mendidih, biar segera matang."

Politikus PDIP Puan Maharani tidak menampik jika ada kemungkinan kadernya akan memilih cawapres dari partai di luar koalisi. Menurut dia, sampai saat ini semua partai masih saling mencermati pergerakan masing-masing.

"Kan tadi lagi digodok bilangnya. Belum mateng."

Baca juga:


Respons Partai soal Peta Politik Pilpres 2019

Mengerucutnya nama cawapres Jokowi juga mengemuka usai pertemuan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Istana Bogor, Minggu (8/7/2018) akhir pekan lalu. Kala itu Megawati menyatakan nama cawapres Jokowi akan segera diumumkan.

Salah satu nama yang disebut-sebut adalah Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto. Namun kata dia partainya belum diajak bicara lagi soal pencalonan tersebut.

"Belum, belum. Kita tunggu saja. Golkar kan sudah menyerahkan kepada Bapak Presiden," ujar Airlangga di Istana Kepresidenan Bogor, Senin (9/7/2018).

Airlangga mengakui namanya sempat masuk dalam 10 nama yang dipertimbangkan mendampingi Jokowi. Dia menegaskan Partai Golkar akan menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya kepada bekas Gubernur DKI Jakarta itu.

Terkait dukungan TGB Muhammad Zainul Majdi kepada Jokowi baru-baru ini, Airlangga menanggapi positif. Dia juga mengaku sudah berkomunikasi dengan Zainul Majdi.

"Pak TGB kan mempunyai basis suara. Saya sendiri sudah berkomunikasi. (Termasuk soal proyeksi TGB jadi cawapres?) Banyak hal, tapi utama mendukung pak presiden."

Baca juga:

Pada awal pekan ini, Majelis Tinggi Partai Demokrat juga menggelar pertemuan untuk membahas capres-cawapres di tengah mengerucutnya peta koalisi untuk pilpres tahun depan. 

Namun, ujar Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan, pertemuan Senin (9/7/2018) itu tidak sampai menyebutkan nama atau pun arah koalisi. Pertemuan yang diadakan di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono itu hanya membahas kriteria umum. 

"Nama belum. Kami belum bahas soal figur," ujar Syarief kepada wartawan usai pertemuan di Mega Kuningan, Jakarta, Senin (9/7/2018) sore.

"Karena ini masalah bangsa enggak mungkin rapat setengah hari kita selesai. Jadi mungkin masih ada tahapan yang harus kita lewati. Koalisi belum. Kami baru bahas hal yang sifatnya umum saja dulu," tambahnya.

Sementara kader Demokrat lainnya, Max Sopacua, mengatakan peta koalisi kubu Joko Widodo dan Prabowo Subianto memang dibahas dalam pertemuan sekitar 4 jam tersebut. Dia menyebut, obsesi terbesar partainya adalah mengajukan Agus Yudhoyono, baik sebagai cawapres atau capres pilpres selanjutnya. Namun partainya juga mengikuti perkembangan.

"Tapi obsesi itu kan tidak ditentukan sendiri oleh partai Demokrat. Ada situasi yang berkembang di masyarakat. Apakah mengijinkan atau tidak," ungkapnya.

Dalam pertemuan perdana tersebut, sejumlah kader tinggi Partai Demokrat turut hadir. Selain Syarief Hasan dan Max Sopacua, turut datang Wakil Ketua Dewan Pembina Agus Hermanto dan Sekretaris Majelis Tinggi Amir Syamsudin.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.