Jadi Target Teroris, Anggota Polres Cirebon Wajib Latihan Merpati Putih

Seluruh anggota Polres Cirebon Kota akan dilatih bela diri Merpati Putih. Kapolres Cirebon menganggap bela diri pencak silat ini sangat cocok untuk melindungi anggotanya dalam pertarungan jarak dekat.

Senin, 10 Jul 2017 19:56 WIB

Kapolres Cirebon Kota Adi Vivid Agustiadi Bachtiar (kanan) mempraktekan ilmu bela diri Merpati Putih di Cirebon, Senin (10/7/2017). (Foto: KBR/Frans Mokalu)


KBR, Cirebon - Anggota Polres Cirebon Kota akan dibekali ilmu bela diri untuk pertarungan jarak dekat. Rencana itu diambil karena belakangan polisi kerap menjadi target serangan teroris.

Kapolres Cirebon Kota Adi Vivid Agustiadi Bachtiar mengatakan rencana pembekalan ilmu beladiri itu juga dilandasi fakta dimana Markas Polres Cirebon pernah menjadi target serangan bom bunuh diri.

"Selain karena Cirebon masuk dalam zona merah, kantor kami juga pernah menjadi sasaran bom bunuh diri," kata Adi Vivid di Cirebon, Senin (10/7/2017).

Adi Vivid mengatakan seluruh anggota Polres Cirebon Kota akan dilatih bela diri Merpati Putih. Adi menganggap bela diri pencak silat ini sangat cocok untuk melindungi anggotanya dalam pertarungan jarak dekat.

"Beberapa kasus yang pernah terjadi, teroris menyerang anggota dari jarak dekat menggunakan senjata tajam. Saya tidak mau anggota saya menjadi korban," kata Adi.

Nantinya, anggota Polresta akan mendapatkan pelatihan rutin setiap dua minggu sekali. Ia menekankan penggunaan senjata api sebagai perlindungan terakhir.

"Seluruh anggota yang ada di Polres atau Polsek wajib mengikuti pelatihan ini. Kalau beladiri sudah tidak mampu, baru menggunakan senjata," katanya.

Selain membekali anggotanya dengan keahlian pertarungan jarak dekat, petugas penjaga juga akan memperketat pemeriksaan terhadap setiap tamu yang berkunjung ke markas Polres maupun Polsek. Tujuannya untuk mengantisipasi serangan teroris.

"Sebelum masuk ke kantor, setiap barang bawaan tamu akan diperiksa," kata Adi Vivid.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.