[SAGA] Menopang Sesama Pengungsi yang Menggelandang

Muhammad Reza Hambali, jadi penopang. Pria usia 30 tahun ini kerap mengumpulkan barang-barang kebutuhan seperti baju, makanan, atau mainan untuk anak-anak.

Senin, 31 Jul 2017 15:15 WIB

Ilustrasi pencari suaka di Rumah Detensi Imigrasi Medan. Foto: www.imigrasi.co.id

KBR, Jakarta - Di dekat kantor UNHCR Jakarta – lembaga PBB yang mengurusi pengungsi, sebuah bangunan berdiri. Bangunan itu terdiri dari beberapa petak kos-kosan berukuran 20x4 meter. Di dalamnya ada kasur gulung, juga lemari pakaian alakadarnya. Tempat itu dihuni sekira 30 orang berparas Timur Tengah. Di antara mereka, ada anak-anak.

Saat ke sana, saya bertemu Muhammad Reza Hambali. Pria asal Afghanistan ini terdampar di Indonesia sejak 2013. Reza –begitu ia disapa, fasih berbahasa Indonesia. Dia bercerita, terpaksa memilih lari dari negaranya Afghanistan dan hijrah ke Indonesia. Perang lah, yang membuat hidupnya jadi karut marut. Dia kabur ke sini sendirian --meninggalkan kakak, adik, dan kedua orangtuanya.

Tapi Reza tak sendiri tinggal di bangunan sederhana itu. Selama empat tahun lebih, ia bergabung dengan para pengungsi. Sebagian dari mereka bahkan ada yang memilih tidur di trotoar Jalan Kebon Sirih Barat 1, Jakarta Pusat.

Puluhan orang itu berasal dari Suriah, Iran, Irak, Myanmar, Somalia, dan Sri Langka. Terdampar di Indonesia dengan alasan yang sama; konflik. Bertahun-tahun di sini, mereka berharap bisa pulang ke negaranya –itu pun jika konflik mereda.

Tapi selama perang masih berkecamuk, para pengungsi ini ingin dipindahkan ke negara ke-tiga. Dan, selama belum ada keputusan dari UNHCR, mereka hanya bisa menunggu.

Hidup menggelandang, dipilih karena tidak ada pilihan. Kampung khusus pengungsi di daerah Bogor, Jawa Barat, umumnya ditempati oleh para pengungsi yang sudah berkeluarga. Tapi tempat itu menurut Reza, sangat terbatas jatahnya.

Dan menjalani hidup seperti ini, tentu tak mudah. Lantaran pemerintah Indonesia melarang pengungsi bekerja, maka mereka hanya bisa mengharapkan belas kasihan warga sekitar --yang kadang memberi makanan atau uang.

Lalu bagaimana mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Muhammad Reza Hambali, jadi penopang. Pria usia 30 tahun ini kerap mengumpulkan barang-barang kebutuhan seperti baju, makanan, atau mainan untuk anak-anak. Selain sumbangan, barang-barang tersebut juga diperoleh dari warga sekitar.

“Di Indonesia kami tidak boleh bekerja, sedangkan kami harus bertahan hidup. Bagaimana membantu sesama? Kalau ada bantuan dari orang Indonesia, saya akan berikan bantuan itu kepada teman-teman saya. Misalnya ada yang memberi aku barang-barang seperti baju, atau makanan, atau bahkan alat mainan anak-anak. Nanti aku kasih mereka,” kata Reza Hambali kepada KBR.

Bantuan yang didapatnya, bermula saat para pengungsi ini mendatangi kantor UNHCR untuk memproses permohonan suaka. Saat itu, ada seorang warga menawarkan bangunan serupa kos-kosan untuk ditempati. Mereka juga sempat ditampung di masjid-masjid yang berada di belakang kantor UNHCR.

Sejak itu, jumlah pengungsi bertambah banyak dan sudah menyerupai kampung sendiri.

Selain dari warga, bantuan juga mengalir dari sebuah yayasan. Yayasan ini kata Reza, memberikan sejumlah uang serta pakaian layak pakai. Kadang, Reza juga mengantar bocah-bocah pengungsi itu ke rumah sakit atau puskesmas.

“Jadi saya kerja sebagai sukarelawan untuk anak-anak. Misalnya ada masalah seperti mau ke puskesmas. Dia tidak bisa bahasa Indonesia, jadi dia telepon aku untuk mengantar,” sambungnya.

Pengungsi lain, Fatimah –juga berasal dari Afghanistan. Dia bercerita, sangat terbantu dengan apa yang dilakukan Reza. Selain karena tak fasih berbahasa Indonesia, dia kesulitan berkomunikasi dengan warga sekitar.

“Dia adalah pahlawan buat kami. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya dan anak-anak saya apabila tidak kenal dengan Reza. Reza sudah banyak membantu saya dan anak-anak saya melalui hari-hari yang berat selama di sini,” ucap Fatimah.

Tidak seperti Reza yang memilih ke sini sebatang kara. Fatimah mengaku diajak suaminya untuk keluar dari negara yang dilanda perang. Fatimah dan keluarga sudah tinggal di Indonesia selama enam tahun, setelah sebelumnya tinggal di kamp khusus pengungsi di Bogor, Jawa Barat.

Begitu pula dengan Rashid –pengungsi asal Irak--yang memilih ke sini seorang diri pada tahun 2011. Baginya, Reza adalah penolong.

“Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya nasib kami di sini, apabila tidak ada dia (Reza). Tapi, di atas segalanya, bagaimanapun dia telah menerapkan nilai luhur yang diajarkan Rasulullah SAW terhadap pengikutnya,” tutur Rashid.




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2

Aman Abdurrahman Diperiksa Densus 88 Terkait Bom Thamrin

  • CCTV Pengakuan Miryam, Pengacara: Dibawah Tekanan
  • Operasi Besar Novel Baswedan Berhasil
  • Laut Rusak, Warga Upacara di Tengah Laut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR