[SAGA] Toleransi Kristen-Islam di Kampung Tengah, Jakarta Timur

"Waktu itu mereka mau latihan paduan suara di gereja. Saya kaget juga, berhijab kok latihan paduan suaranya di gereja ya?”

Senin, 19 Jun 2017 15:38 WIB

Ibadah Minggu jemaat Gereja Kristen Pasundan di Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto: Ninik Yuniati/KBR.

KBR, Jakarta - Minggu pagi saya menyusuri jalan sempit Gang Eka Dharma. Sayup-sayup terdengar nyanyian rohani. Dua ratusan jemaat Gereja Kristen Pasundan (GKP) tengah khusyuk beribadah. Selang beberapa jam –usai ibadah, azan berkumandang di gang yang sama. Mengajak umat Muslim  melaksanakan salat Dhuhur. Suara itu berasal dari mushala Al Mukhalishiin yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari gereja.

Aktivitas dua rumah ibadah dari dua agama ini mewarnai kehidupan sehari-hari warga RT 001/RW 008 Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur. Selama 50 tahun lebih, umat Kristen dan Islam di kampung ini hidup berdampingan. Bagi warga Gang Eka Dharma, toleransi dan kerukunan bukan hanya ada di mimbar khotbah atau tausiyah.

Estu Baiin, salah satu warga Kampung Tengah mengatakan kerukunan beragama merupakan tradisi yang diwariskan sejak turun temurun. Itu terbukti ketika pembangunan gereja dan mushala dikerjakan bersama-sama.

Gereja Kristen Pasundan (GKP) berdiri lebih dulu pada awal tahun 1970-an. Sedang mushala Al Mukhalishiin pada 1990-an.

“Waktu itu saya dapat cerita dari orangtua saya bahwa pembangunan awal gedung gereja ini itu didukung oleh lurah. Itulah bentuk hubungan yang baik antara warga, jemaat dengan aparat daerah," tutur Estu Baiin kepada KBR.

Toleransi warga Gang Eka Dharma memukau Pendeta Gereja Kristen Pasundan, Magyolin Carolina Tuasuun. Perempuan berusia 40 tahun ini terkesan saat pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Tengah lima tahun lalu.

“Karena saya belum tahu waktu itu, mereka (warga muslim) yang menunjukkan lokasi gereja. Katanya, 'Ayo sama-sama'. Waktu itu mereka mau latihan paduan suara di gereja. Saya kaget juga, berhijab kok latihan paduan suaranya di gereja ya,” ujar Magyolin Carolina Tuasuun.

Kebersamaan lain terjadi ketika pihak gereja pindahan. Dengan barang bawaan yang banyak, warga membantu mengangkut. Pendeta Olin –demikian ia kerap disapa, bercerita kerukunan dua umat beragama juga ditunjukkan dengan tradisi saling mengunjungi, berkeliling dari rumah ke rumah, saat Lebaran dan Natal – Tahun Baru.

“Kami sempat kaget juga waktu Natal-Tahun Baru berkeliling. Pokoknya seruan-seruan yang bisa ngumpul bareng, ngucapin Natal dan Tahun Baru,” sambungnya.

Tradisi kebersamaan lain yang terus dipertahankan warga Gang Eka Dharma hingga kini adalah upacara bendera di Hari Kemerdekaan, 17 Agustus. Estu Baiin mengatakan, tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1980-an.

(Mushala Al Mukhalishiin yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari Gereja Kristen Pasundan. Foto: Ninik Yuniati/KBR)


Tokoh muslim, Ustad Khairullah, mendukung keberlanjutan berbagai tradisi ini. Kata dia, kegiatan silaturahmi dengan umat lain selaras dengan prinsip Islam sebagai rahmat semesta alam.

“Allah menciptakan manusia itu nggak yang muslim aja, semuanya. Tujuannya saling mengenal. Hal itu memang dianjurkan oleh Islam, kan hablum minanas, kita saling tolong menolong,” ujar Ustad Khairullah.

Namun, setelah puluhan tahun, ikatan kebersamaan warga nyaris mengendur saat Pilkada DKI Jakarta lalu. Gencarnya isu berbau SARA sempat berseliweran di grup media sosial milik warga. Pendeta Olin mengatakan, hal ini sontak memantik konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Cuma kemarin itu sempat rada-rada memanas, lalu semua coba menahan diri. Mungkin kalau ibu RT-nya nggak kuat, bahaya juga sih,” kata Pendeta Olin.

Pendeta Olin maupun Ustad Khairullah memilih menahan diri untuk tidak ikut larut dalam polemik. Masing-masing berupaya menenangkan umatnya agar tidak terprovokasi.
 
Untunglah, pilkada usia. Simpul kerukunan kembali menguat. Keberhasilan ini juga tak lepas dari keberhasilan Ketua RT 001, Neng Herti, dalam mengelola konflik. Ia selalu menekankan nilai-nilai persaudaraan di atas perbedaan agama.

“Kalau untuk seruan, saat upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus kami selalu sampaikan, tolong jaga kerukunan yang sudah terjalin selama ini. Kita tidak boleh mudah terprovokasi oleh orang-orang dari luar yang akan mengganggu kerukunan kita,” ungkap Ketua RT 001, Neng Herti.

Perempuan berusia 47 tahun ini juga aktif memantau orang luar yang masuk ke kampungnya. Ia memastikan tidak akan memberi tempat bagi warga yang tidak toleran.

Menjaga tradisi toleransi juga ditularkan kepada anak-anak, melalui Komunitas Anak Sabtu Ceria yang dibentuk sejak empat tahun lalu. Saban Sabtu pekan ketiga, Pendeta Olin atau Ustad Khairullah membacakan dongeng untuk puluhan anak-anak Gang Eka Dharma. Melalui kisah-kisah bermuatan kebersamaan, diharapkan tradisi toleransi mampu diestafetkan kepada generasi berikutnya.

“Ada banyak hal yang memang saya pribadi baik keluarga maupun gereja memikirkan, bagaimana cara membuat supaya kebersamaan ini bisa diteruskan turun temurun,” tutup Pendeta Olin.






Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim