Polisi Interogasi Anak Pelaku Teror Bom di Surabaya dan Sidoarjo

"Dari tiga anak teroris sudah bisa berinteraksi. Yang ketiga bisa diajak ngomongl, dia ngaku ada pertemuan rutin. Dan yang dua itu aktif diajak orangtuanya dicekoki film-film jihad," pungkas Machfud.

Selasa, 15 Mei 2018 13:58 WIB

Kondisi pasca ledakan ledakan di pintu masuk Polrestabes, Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5). Bom yang dibawa pengendara motor melukai empat polisi dan enam warga. (Foto: ANTARA/ Rendra P)

KBR Surabaya - Kepolisian menyebut anak-anak para pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo dicekoki paham ekstrimis oleh para orangtua mereka. Menurut Kapolda Jawa Timur Machfud Arifin, anak-anak tersebut tidak mendapatkan pendidikan formal. Kata dia, selama ini pembelajaran dilakukan langsung oleh para orangtua mereka.

"Istilah home schooling itu tidak benar. Tidak sekolah home schooling, hanya orangtuanya mendoktrin kalau ditanya orang kamu sekolah home schooling. Padahal enggak," kata Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin di Surabaya, Selasa (15/5/2018).

Machfud melanjutkan, anak para pelaku teror itu juga terbiasa disuguhi video-video yang mendukung paham ekstrimis. "Ini yang terjadi fenomena apa? Supaya tidak berinteraksi dengan masyarakat lain. Bapak dan ibunya mendoktrin terus dengan video dan ajaran ajaran yang diberikan."

Sehingga kata Machfud, muncul kesediaan anak menuruti perintah orangtua. Misalnya, korban anak pada teror bom di GKI di Jalan Diponegoro yang patuh melilitkan bom di pinggang.

"Dikungkung dan dikurung dengan doktrin khusus, sehingga mau dengan ibunya di Diponegoro membawa bom yang ditaruh di pinggangnya. Ini mau anak yang masih di bawah umur dengan doktrin tidak sekolah," paparnya.

Berdasar interogasi terhadap ketiga anak terduga teroris asal Sidoarjo, polisi menemukan bahwa dua anak di antaranya aktif mengikuti ajaran orangtua mereka. 

"Dari tiga anak teroris sudah bisa berinteraksi. Yang ketiga bisa diajak ngomong, dia ngaku ada pertemuan rutin. Dan yang dua itu aktif diajak orangtuanya dicekoki film-film jihad," pungkas Machfud.

Baca juga:


Korban Anak Dapat Perlakuan Khusus

Selanjutnya, polisi bakal mendampingi anak-anak korban aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo tersebut. Kepala Polda Jawa Timur Machfud Arifin mengatakan, telah menyiapkan ahli baik dari kepolisian maupun psikolog untuk memulihkan kondisi kejiwaan anak.

"Kami akan memberikan pendampingan kepada anak-anak pelaku, baik dari para polwan terlatih maupun psikolog untuk bisa memberikan pemahaman," tutur Machfud di Surabaya, Selasa (15/5/2018).

Ia melanjutkan, ada empat anak yang kini dirawat di rumah sakit. Karena para orangtua mereka tewas, maka nantinya polisi akan menyerahkan pengasuan ke kerabat sang anak.

"Semua orangtuanya sudah meninggal. Nanti diberikan kepada siapa, orangtuanya yang benar merawat. Nanti akan kami berikan ke pamannya atau neneknya dengan catatan punya pemahaman yang waras."

Ditambahkan Machfud, ketiga korban anak dari Sidoarjo kondisinya membaik. Sementara seorang yang jadi korban dalam pemboman Mapolresta Surabaya masih menjalani pemulihan lantaran baru rampung dioperasi.

"Tiga yang dari Sidoarjo dan satu dari Surabaya. Dan akan kami berikan perlakuan khusus terhadap mereka karena masih dibawah umur," imbuh Machfud.

Baca juga:

Kapolri Tito Karnavian sebelumnya menyatakan, rentetan teror bom di Surabaya dan Sidoarjo melibatkan tiga keluarga. Di antaranya teror di tiga gereja di Surabaya dan Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo pada Minggu (13/5/2018). Serta ledakan bom sehari setelahnya di depan Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018) pagi. Menurut Tito, ketiga keluarga saling mengenal dan terkait dengan Jaringan Ansharut Daulah (JAD) cabang Surabaya. Dua di antaranya yakni D dan BS disebut sebagai tokoh penting JAD Surabaya. 



Editor: Nurika Manan
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.