Herdy Indra: 'Dusun Ini Bersolek Jadi Kampung Ekologi'

“Jadi dari kelurahan dan RW memberi kebebasan kepada masyarakat yang punya lorong bagaimana mengubah lorong supaya tidak kumuh dan serem, angker."

Ketua Pengurus Kampung Ekologi, Herdy Indra Fiyanto. Foto: KBR.

Kamis, 31 Mei 2018

KBR, Jakarta - Sebuah gang bercat merah muda dengan puluhan pasang pot tanaman yang tergantung di atasnya, menjadi lokasi favorit muda-mudi berswafoto atau selfie. Berbelok ke kanan, gang dengan pulasan beragam warna, siap menyambut. 

Dua gang yang menyatu itu, seakan menjadi harapan bagi sepasang kekasih. Yha, masuk ke Gang Cinta dan berakhir di Gang Bahagia. 

Gang tematik tersebut, ada di Kampung Ekologi, Batu Malang, Jawa Timur. Tepatnya di RW 6, Kelurahan Temas. Ketua Pengurus Kampung Ekologi, Herdy Indra Fiyanto, mengatakan kampung yang mengusung konsep go green dan pertanian organik ini hanya ada satu di Batu Malang. Dan itu adalah tempat dimana ia tinggal sekarang. 

Dirancang pada 2016 dan diresmikan pada 29 Januari 2017, kampung ini memang nyaman dihuni. Hampir setiap pekarangan rumah ditanami sayuran organik. Kalaupun tidak, ditumbuhi bunga-bunga. Tak hanya itu, beberapa jalan di kampung ini juga sengaja tak disemen atau aspal. Tapi dengan batu alam, juga paving blok. 

“Penggagas awal bapak lurah, kemudian ide itu disalurkan ke RW, lalu sosialisasi ke masyarakat dan ide itu diterima,” ujar Herdi mengenang.

“Jadi dari kelurahan dan RW memberi kebebasan kepada masyarakat yang punya lorong bagaimana mengubah lorong supaya tidak kumuh dan serem, angker. Misal go green, antipolusi, hemat energi. Pelan-pelan kami ubah dengan konsep ekologi,”

- lanjut Herdi.

Walakin, bukan perkara sepele mengenalkan gagasan Kampung Ekologi. Apalagi dulu, warga sudah terbiasa dengan lingkungan yang kumuh dan kotor. Menyuci pakaian di pekarangan rumah atau buang sampah di got. 

Kasiatin dan Khoirul, warga setempat mengakui hal itu.

“Dulunya kampung ini kumuh, banyak kotoran sampah, banyak hewan berkeliaran. Depan rumah buat nyuci dan jemuran,” tutur Kasiatin. 

Dan begitu dikenalkan istilah Kampung Ekologi untuk kali pertama, warga pun kebingungan.

“Ya sempat bertanya apa kampung ekologi itu? Tahunya kampung ekologi yang bersih dan asri,” sambung Khoirul. 

Maka untuk menjelaskan dengan sederhana tentang apa itu Kampung Ekologi, hal pertama yang dilakukan Herdi dan pemuda lain adalah mengajarkan cara mendaur ulang sampah rumah tangga dan menanam sayur-sayuran organik di pekarangan. 

“Pertama penanganan sampah rumah tangga yang biasanya dibuang, kami berikan edukasi bahwa bisa dimanfaatkan. Kedua, ruang terbuka sekitar rumah bisa digunakan menanam tumbuhan hijau atau sayuran organik.”

Setelahnya, saluran got yang terbuka, diubah dan ditutup rapat-rapat. Kata Herdi, ini supaya warga tak lagi seenaknya membuang sampah. Bau tak sedap pun, lenyap.

“Saluran sanitasi dibuat tertutup. Jadi tidak ada peluang buang sampah. Kalau tertutup bau (got) berkurang dan sampah tidak ada.”

-

Perubahan kecil itu rupanya turut mengubah sikap warga yang tadinya cuek dengan tetangga, jadi senang kumpul-kumpul. Tiap kali berembuk, muncul ide kreatif. Misalnya membuat gang-gang tematik; antariksa, gang cinta, gang bahagia.  


Bersamaan dengan lahirnya konsep Kampung Ekologi, pertanian organik juga terus digalakkan. Taslan, Ketua RW 6 sekaligus koordinator petani organik di Kelurahan Temas, mengatakan sayuran organiknya sudah mengantongi sertifikat. 

“Kalau jenis sayuran organik kami yang terverifikasi sekitar 48 macam. Cuma sekarang tidak menanam semua, sesuai kebutuhan saja,” jelas Taslan. 

Ia pun berharap, pertanian organik ini tak berhenti di tengah jalan. Sebab selain karena alasan kesehatan, pertanian organiknya sudah punya nama. 

“Pertanian organik adalah konsep pertanian masa depan. Bukan sekadar sekarang, tapi ke depan. Jadi harapan saya tetap berlanjut karena kami berpikir untuk anak-anak kami ke depan,” sambungnya. 

Setahun mempopulerkan Kampung Ekologi, rupanya belum memuaskan Herdi. Sebab pemasukan dari pelancong atau pengunjung lokal, belum bisa menghidupi warganya. Meski sudah ada tarif yang dikenakan ke tiap orang yang datang.

“Jadi selama ini nilai ekonomi sebatas untuk kampung, tidak untuk pribadi. Jadi tahun ini kami ingin re-branding. Sehingga ada pemasukan ke kantong warga yang bekerja,”

- harap Herdi.

Dalam catatannya, setahun lalu ada 1600 pengunjung ke kampungnya. Dengan tarif sebesar Rp20-Rp50 ribu per orang.

Ia berharap, tahun ini bisa gencar mempromosikan Kampung Ekologi dan banyak pemuda setempat mau terlibat mengembangkan kampungnya.

“Memang kami harus buat kegiatan yang kekinian, enggak cuma menanam. Misal bikin spot yang menarik.”

Sejumlah rancangan seperti membuat wahana outbond, kafe organik, dan peternakan kambing, siap diwujudkan tahun ini. Dengan begitu, keterlibatan anak muda makin banyak dan pemasukan kian besar.

Impian yang sama juga dilantunkan Kasiatin dan Khoirul. 

“Lebih ditingkatkan kebersihannya. Mudah-mudahan banyak yang sadar kebersihan,” ujar Kasiatin dan Khoirul.