Presiden Joko Widodo menyampaikan kata sambutan saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tahun 2015 di Jakarta Convention Center, Rabu (22/4). ANTARA FOTO

KBR, Jakarta – Presiden Joko Widodo meminta kepolisan berani menangkap para pembajak musik kelas kakap. Hal ini disampaikan Jokowi dalam pidato saat menerima Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) dan Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Indonesia. Dirinya menegaskan kepada Kapolri Badrodin Haiti, yang hadir dalam pertemuan itu, agar instruksi ini segera dilaksanakan sehingga tak perlu diperintahkan lebih dari sekali.

“Jangan yang dikejar-kejar  itu pedagang di jalanan, yang kecil-kecil. Pemain besarnya aja kelihatan kok. Siapa? Kelihatan. Saya tanya saja pasti tahu itu. Gebuk aja yang gede langsung. Memang mau gebuk kadang-kadang masih mikir. Waktu kemarin penenggelaman kapal saja perintah saya tiga kali, baru berani menenggelamkan,” kata Jokowi dalam pidatonya di Istana Negara, Senin (18/5/2015).

Jokowi menambahkan, dirinya menganggap pembajakan musik sebagai hal yang luar biasa. Ini lantaran selama ini banyak kejahatan yang dianggap biasa oleh penegak hukum dan masyarakat. Seperti pembajakan, pencurian ikan, narkoba, dan mafia migas.

“Jangan dianggap biasa-biasa terus. Kalau pembajakan terus menerus, penegakan hukumnya mestinya juga terus menerus. Sepertinya kuat-kuatan saja, mana yang kuat. Bosan-bosanan saja, mana yang nanti akan bosan, penegak hukumnya atau pembajak. Hanya masalah itu. Kalau dihilangkan total ya, tapi paling tidak harus ditekan sekecil-kecilnya,” kata Jokowi. 

Dalam pertemuan itu hadir pula Kapolri Badrodin, Kabareskrim Budi Waseso, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, serta Lembaga Manajemen Kolektif Nasional.


Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!