[SAGA] Laninka, Vlogger Difabel: Makeup is My Therapy

“Ibaratnya makeup is my therapy. Makeup tuh tempat gue menemukan diri gue. Saat gue tertutup dengan dunia luar."

Senin, 12 Mar 2018 09:40 WIB

Laninka Siamiyono, vlogger dan difabel. Memiliki kanal di YouTube, The Wheelchair Girl. Foto: Ria Apriyani/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Deretan perlengkapan kosmetik berjejer rapi. Foundation, concealer, brush, eyeliner, mascara, eyeshadow, hingga lipstick. Semua dipisahkan bergantung fungsi.

Laninka Siamiyono bercerita, alat-alat kecantikan itu jadi tempat bermainnya kini. Hampir satu tahun terakhir, kamar itu juga berfungsi sebagai studio pribadi. Di situ, ia memproduksi semua tutorial makeup yang diunggah ke kanal YouTube pribadinya, ‘The Wheelchair Girl’.

Sudah ada 10 video tutorial makeup dan beberapa review produk di situ. Semua dibuat dengan bantuan sebuah tongkat penggaruk punggung. Bagi Laninka, tongkat itu seperti tangan ketiganya.

Sebab penyakit Rheumatoid Arthritis atau radang sendi akut, membuat sikut dan pergelangan tangannya tak bisa menekuk. Ia pun kesulitan berjalan.

“Enggak mungkin kan setiap mau pergi, ‘Bu, Bu pakein ini dong. Eyeshadow, lipstick’. Tiap orang kan punya kebutuhan lain-lain. Akhirnya ngelihat tongkatnya ayah. Coba deh pakai. Ternyata bisa ya,” kenang Laninka.

Dan butuh waktu tiga tahun bagi Laninka menyesuaikan diri dengan tangan ketiganya itu. Sampai akhirnya ia bereksperimen dengan mengikatkan sebuah tali di satu ujung tongkat. Alat makeup yang mau digunakan pun lantas diikat dengan tali itu.  

Dengan panjang tongkat sekitar 50 centimeter, Laninka mampu menjangkau bagian wajahnya. Setiap bermain dengan riasan wajah, dia mengaku merasa menemukan dunianya.

“Ibaratnya makeup is my therapy. Makeup tuh tempat gue menemukan diri gue. Saat gue tertutup dengan dunia luar, makeup tuh, “Ini gue loh”.



Saat itu tahun 2006. Untuk pertama kalinya, dokter mendiagnosa perempuan 27 tahun itu mengidap radang sendi akut. Penyakit tersebut menyerang seluruh persendian di tubuh Laninka. Selain membuat tangannya tak bisa menekuk, dia juga mesti menggunakan kursi roda.

“(Penyakit) Rheumatoid Arthritis mengubah struktur badan gue. Mengubah fleksibilitas, mengubah gerak gue, dan sebagainya. Itu sih yang bikin gue merasa, RA took my life.”

Mulanya, ia cuma mengalami demam dan muncul ruam merah di tubuh. Setelah itu badannya terasa linu. Lama-kelamaan, linu itu berubah jadi rasa sakit hingga menjalar ke seluruh badannya. Jangankan untuk digerakkan, disentuh pun merupakan satu siksaan bagi Laninka.

Dokter lantas mewajibkannya menjalani fisioterapi seminggu sekali. Semuanya demi mencegah otot-otot tubuhnya mengecil.

“Pergi menuju dokter udah siksaan sendiri buat gue. Jangankan ada lubang, ada polisi tidur itu siksaan banget sih. Bisa jejeritan. Terapi adalah bagian dari siksaan lain. Cuma ya, itu satu-satunya obat biar sendi gue tetap fleksibel.“

Sejak itu dunia Laninka berubah. Kemampuan gerak tubuhnya terbatas. Tangannya tidak bisa menekuk.

Padahal dulu, dia begitu energik; menari dan bermain basket. Sekarang? Hari-harinya diisi fisioterapi. Dia juga berhenti sekolah kala SMP dan memilih menutup diri.

The lowest point gue saat gue mempertanyakan keberadaan Tuhan. Kok mesti gue sih yang ngalamin. Ada momen-momen gue merasa kesal banget dengan diri gue sendiri. Mau ngambil garam aja enggak bisa. Berusaha untuk angkat badan enggak bisa. Daripada kayak gitu, gue memilih lebih baik menutup diri aja deh.”

Saya menemui Laninka di rumahnya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Saya sempat tak percaya, sebab perempuan yang duduk di depan saya ini tampak begitu ceria, ceriwis, dan percaya diri.

“Mulai berdamai dengan diri sendiri sekitar tiga tahun lalu. Saat gue sudah merasa lelah bersembunyi. Saat gue kayak, I have no friends loh. Hidup gue cuma di kamar, depan televisi, bangun, duduk, depan TV. Bangun, duduk, depan TV. Lelah.”

Ketika mulai menerima kondisinya, Laninka perlahan membuka diri.

Berawal dari kesukaannya menyaksikan video tutorial di YouTube, ia memutuskan membuat kanal sendiri. Di situ, Laninka ingin berbagi ilmu tentang hal yang paling disukai; makeup. Maka lahirah kanal YouTube pribadinya, ‘The Wheelchair Girl’.

Semua video yang diunggahnya dikerjakan sendiri. Mulai dari merekam hingga mengedit. Itu semua dilakoni demi menularkan virus positif kepada difabel. Bahwa keterbatasan tak boleh menghalangi mereka berkarya. Juga, Laninka berharap masyarakat bisa mengetahui seperti apa keseharian seorang difabel.

“Sempat ada yang komentar di YouTube gue, “Innalilahi wa innailahi rojiun’. Lah kenapa? Ya udah. Segitu aja berarti pemikiran dia menilai seorang difabel.”




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.