[SAGA] Jalan Panjang Korban Teror Bom Mengampuni Pelaku

“Dendam, sangat dendam. Saya kayak gini ya, dulu gembar-gembor ke televisi supaya mengeksekusi Amrozi.”

Kamis, 22 Mar 2018 12:15 WIB

Agus Suaersih, korban bom di Hotel JW Marriot, Jakarta pada 2003. Foto: Gilang Ramadhan/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

  

KBR, Jakarta - “Dendam, sangat dendam. Saya kayak gini ya, dulu gembar-gembor ke televisi supaya mengeksekusi Amrozi,” ucap Chusnul Chotimah geram.

“Yang pertama takut, pikiran saya kotor tentang pelaku padahal katanya sudah tobat. Tapi saya belum percaya,” aku Agus Suaersih ketika disinggung tentang pelaku teror bom.

“Perasaan itu tak bisa dipungkiri, kecewa. Kenapa orang itu, pelaku, tidak melihat kita itu satu saudara? Menghargai toleransi. Kita bukan negara Islam,” tutur Dwieky Romdhoni.

Mereka adalah korban teror bom di Indonesia. Chusnul Chotimah, menjadi korban ledakan Bom Bali I pada 2002. Agus Suaersih, korban bom di Hotel JW Marriot, Jakarta pada 2003. Dwieky Rhomdhoni, jadi korban teror di kawasan Thamrin Jakarta pada 2016.

Pada akhir Februari lalu, ketiganya bersama 50-an korban teror bom dipertemukan dengan 124 bekas narapidana kasus terorisme. Diwadahi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), pemerintah ingin mendamaikan kedua pihak agar saling memaafkan.

Tapi, tak gampang memberi ampun pada para pelaku. Chusnul, Agus, dan Dwieky, bercerita butuh waktu panjang sampai betul-betul ikhlas memaafkan. Sebab akibat dari aksi itu membekas sepanjang hidup mereka. Baik secara fisik maupun psikis.

“Prosesnya ya, aduh… panjang. Waktu dulu, saya sampai didatangi ustad dan diberi wejangan. Tapi berkat dorongan ustad dan BNPT, kita dikasih wejangan-wejangan itu akhirnya bisa memaafkan,” kenang Chusnul.

“Butuh waktu yang pasti, tahunan. Pada 2012 dan 2014 saya diketemukan dengan pelaku. Saat itu, saya dicoba bagaimana seorang Agus, apakah bisa menerima?” kata Agus.

“Seiring waktu, saya mencoba untuk memaafkan. Tapi saya ingin tahu dari mereka bagaimana? Sejauh ini baru dipertemukan, interaksi lebih jauh belum ada. Saya masih was-was,” jelas Dwieky.

Ketika detik-detik Bom Bali I terjadi, Chusnul ingat, ia hendak membeli nasi bungkus untuk tamunya. Di Pulau Dewata itu, ia memiliki kios kecil. Namun pasca peristiwa mengerikan tersebut, ia memilih pulang ke kampunganya di Sidoarjo, Jawa Timur. Kini, ia berjualan sayur keliling demi menghidupi tiga anaknya.

Dengan kondisi cacat permanen, ia masih harus berobat seumur hidup untuk menyembuhkan luka di kulit. Tapi itu juga susah lantaran ketiadaan biaya. Barulah setelah berkali-kali melayangkan surat kepada Presiden Jokowi, Chusnul sedikit diringankan dengan adanya Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Sementara uang kerohiman dari BNPT, baru ia terima akhir tahun lalu. Jumlahnya Rp10 juta. Duit itu dipakai untuk modal usaha.

“Dari tahun 2012-2017, saya kalau berobat pakai uang sendiri. Sampai akhir Desember, dari BNPT yang menjembatani saya selama jadi korban bom ditampung dan alhamdulilah mendapat bantuan dari pemerintah,” ujar Chusnul sambil terbata-bata.

Sementara Dwieky yang mengalami patah leher, sekarang harus mengidap gangguan pada sarafnya. Impaknya, ia mudah lelah. Kalau dipaksakan, kolaps –tak sadarkan diri.

“Nah sekarang sudah mulai ke saraf sensorik-motorik. Kalau mau kerja ya harus harus istirahat. Karena pada akhirnya badan saya mengoffkan sendiri. Pingsan. Kemudian badan sering kaku. Bahkan sesak napas,” jelas Dwieky.

Ketika peristiwa bom Thamrin, Dwieky harus berhenti bekerja selama 10 bulan. Tak dipecat, tapi konsekuensinya ia tak menerima gaji. Untuk menyambung hidup, ia berutang pada keluarga dan teman-temannya.

Sekarang perempuan 35 tahun ini masih harus berobat tiga kali dalam seminggu. Meski agak beruntung, sebab dia tak mengeluarkan uang pribadi untuk pengobatan karena ditanggung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Meski korban dan pelaku sudah dipertemukan, tapi BNPT mengaku belum bisa merekonsiliasi kedua belah pihak itu. Kepala BNPT, Suhardi Alius mengatakan, tak semua korban bersedia datang dengan alasan belum bisa memaafkan pelaku. Dalam catatannya, setidaknya ada 1000 korban teror sejak tahun 2000.

“Kami sampaikan tentu ada luka mendalam, kami tidak memaksakan untuk kegiatan ini. Tentunya mungkin entah trauma, dendam yang belum terbalaskan tapi yang hadir di sini betul-betul yang berjiwa besar untuk menerima itu semuanya,” kata Suhardi.

Lantas seperti apa kehidupan para bekas pelaku teror? Betulkah mereka telah insyaf?


(Chusnul Chotimah,  korban ledakan Bom Bali I. Foto: Gilang Ramadhan)


“Sudah, saya lillahi ta'ala memaafkan mereka,” ucap Chusnul Chotimah sembari memejam.

“Lama-kelamaan setelah perkenalan, terus diadakan kegiatan, membaur. Berdoa masing-masing. Kita saling mengaminkan cita-cita masing-masing, saya mulai membuka mata hati saya ohh.. saya manusia, dia manusia,” tutur Agus Suaersih.

“Saya was-was. Karena ideologi itu pasti masih ada. Untuk mengikis ideologi itu kan butuh proses. Mungkin suatu saat ada kegiatan lain, saya bisa memaafkan,” tukas Dwieky.

Mereka adalah korban teror bom di Indonesia. Chusnul Chotimah, menjadi korban ledakan Bom Bali 1 pada 2002. Agus Suaersih, korban bom di Hotel JW Marriot, Jakarta pada 2003. Dwieky Rhomdhoni, jadi korban teror di kawasan Thamrin Jakarta pada 2016.

Pada akhir Februari lalu, ketiganya bersama 50-an korban teror bom dipertemukan dengan 124 bekas narapidana kasus terorisme. Diwadahi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), pemerintah ingin mendamaikan kedua pihak agar saling memaafkan.

Chusnul dan Agus, mengaku ikhlas telah mengampuni para pelaku. Tapi tak begitu bagi Dwieky.

Lantas bagaimana dengan para pelaku? Sofyan Sauri, bekas napi kasus penyelundupan senjata untuk kelompok teror, mengaku telah tobat.

“Jadi secara tidak langsung apa yang pernah kami lakukan dulu itu telah memberikan gambaran Islam yang buruk. Dan kami bertobat dan berjanji membantu pemerintah menyadarkan teman-teman kami yang belum sadar,” aku Sofyan di depan mimbar.

Begitu juga dengan Mochtar Daeng Lau, pelaku teror bom Makassar 2002. Ia berkata telah saling memaafkan dengan korban.

“Jadi kalau dilihat yang ada di tempat ini, kami berbaur satu sama lain. Bahkan saling mendoakan, karena ternyata memaafkan lebih indah daripada menyimpan dendam,” tukasnya.

Pertemuan antara korban dan bekas pelaku kasus terorisme tersebut sesungguhnya bukan yang pertama. Sebelumnya pada 2012 dan 2014, kata Agus Suaersih, korban dipertemukan dengan sejumlah pelaku teror oleh kelompok masyarakat sipil Aliansi Damai Indonesia (AIDA).

Sementara untuk rekonsiliasi yang diinisiasi BNPT ini, berlangsung selama tiga hari. Dua hari penuh, korban dan bekas pelaku berbaur, mencurahkan isi hati, dan menyampaikan permintaan maaf.

Hingga di puncak acara, para korban dan pelaku diberi kesempatan mengungkapkan harapan masing-masing. Perwakilan korban misalnya, meminta pemerintah mempermudah dan menanggung biaya perawatan serta memberikan bantuan usaha dan pekerjaan. Vivi Normasari, korban bom di Hotel JW Marriot.

“Para korban banyak yang mengalami cacat permanen dan sangat membutuhkan bantuan usaha. Bantuan itu sangat berarti bagi para korban dan bisa memberikan pelatihan usaha. Sehingga mereka bisa mengembangkan diri. Karena selama ini, banyak yang menganggur,” kata Vivi Normasari, korban bom di Hotel JW Marriot.

Sedang Ali Fauzi, yang merupakan adik kandung terpidana Bom Bali I Amrozi dan Ali Imran, meminta pemerintah memberi lapangan pekerjaan pada bekas napi. Ia bercerita, begitu napi yang begitu keluar penjara kesusahan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Itu mengapa, ia selalu didatangi bekas napi agar dicarikan pekerjaan.

“Mohon kami didorong ada pelatihan. Kami tak menginginan tiap hari tiap bulan diberi ikan. Tapi berilah kail dan jala. Dengan begitu kami bisa mengambil ikan itu sendiri,” harapnya.

Menanggapi semua permintaan itu, Kepala BNPT Suhardi Alius menyatakan sulit pemenuhan hak-hak korban lantaran buruknya koordinasi antarkementerian dan lembaga terkait. BNPT pun tak bisa mengintervensi karena tak memiliki kewenangan yang kuat dalam undang-undang.

"Saya akui masih ada hambatan. Ini masalah akses kesehatan, saya juga datang ke Kemenkes. Gimana nih, saudara-saudara saya yang menjadi korban ini? Tapi kan saya belum ada aksesnya," kata Suhardi di Hotel Borobudur, Rabu (28/2/2018).

Sementara Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir menjanjikan pemberian beasiswa dan tunjangan pendidikan kepada anak-anak para korban. Ia juga berjanji akan memberikan bantuan teknologi bagi mereka yang ingin memulai usaha kecil menengah.

Sedangkan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri menyatakan kesiapannnya untuk memberikan akses pelatihan dan lapangan kerja bagi bekas pelaku maupun korban.




Editor: Quinawaty

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

DPR dan Pemerintah Belum Sepakati Definisi Teroris, Pembahasan RUU Terorisme Diperpanjang

  • Polda Kaltim Tetapkan Nakhoda Kapal Berbendera Panama Jadi Tersangka
  • Suciwati: Pak Jokowi, Mana Dokumen TPF Munir?
  • Abaikan Pergub, Dua Pelanggar di Lhokseumawe Dicambuk di Ruang Terbuka

Anda berencana ke luar negeri? Ingin beli oleh-oleh, tapi takut kena pajak? Pada 1 Januari 2018, pemerintah menerbitkan regulasi baru untuk impor barang bawaan penumpang dan awak sarana pengangkut.