Presiden Park Digulingkan, Siapa Kandidat Terkuat Pemimpin Korsel?

Menurut konstitusi di negara itu, pemilu presiden harus digelar dalam kurun waktu 60 hari setelah kursi presiden kosong. Diperkirakan pemilu presiden akan digelar 9 Mei mendatang.

Sabtu, 11 Mar 2017 13:00 WIB

Aparat kepolisian bentrok dengan demonstran pendukung presiden Park Geun-hye dekat kantor Mahkamah Konstitusi di Seoul, Korea Selatan, Jumat (10/3/2017). (Foto: ANTARA/Kyodo)

KBR - Korea Selatan bersiap menghadapi agenda politik terbesar tahun ini, yaitu Pemilu Presiden pada awal Mei mendatang.

Pemilu presiden digulirkan setelah Park Geun-hye resmi dilengserkan dari kursi kepresidenan pada Jumat (10/3/2017), berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi negara itu.

Menurut konstitusi di negara itu, pemilu presiden harus digelar dalam kurun waktu 60 hari setelah kursi presiden kosong. Diperkirakan pemilu presiden akan digelar 9 Mei mendatang.

Masa pemerintahan Park Geun-hye hanya berumur empat tahun (dari Februari 2012-Maret 2017) lebih cepat setahun dari masa waktu normal lima tahun. Park terguling karena sandungan skandal dugaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang melibatkan orang terdekatnya, Choi Soon Sil.

Dengan kursi presiden kosong, maka pemilu presiden di Korea Selatan dipercepat, pada pertengahan tahun ini.

Pertarungan politik menuju Blue House (atau Cheong Wa Dae, hunian resmi presiden Korea Selatan) kini dimulai.

Partai Demokratik Korea (Partai Minjoo), yang selama ini menjadi partai oposisi terbesar, mendapat panggung. Partai Minjoo ini terakhir kali berkuasa pada 2003-2008 melalui Presiden Roh Moo-hyun.

Selama sembilan tahun, Partai Minjo harus memainkan peran oposisi konservatif, saat rival utama mereka Partai Saenuri memimpin melalui Presiden Lee Myung-bak dan terakhir Park Geun-hye.

Kini Partai Minjoo berpeluang berkuasa, karena Partai Saenuri yang kini berubah nama menjadi Partai Liberty tidak memiliki kandidat yang bisa bersaing untuk memimpin negara ekonomi terbesar keempat di Asia itu.

Sementara Partai Minjoo memiliki sejumlah kandidat, seperti hasil jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei Gallup Korea, Jumat (10/3/2017).

Pemilu presiden nanti juga bakal menjadi penentu, apakah Korea Selatan yang selama dua periode ini bersikap konservatif terkait isu-isu utama termasuk isu Korea Utara, akan menjadi lebih moderat, dan tidak mengekor Amerika Serikat.

Moon Jae-in

Moon Jae-in memimpin jajak pendapat menjadi kandidat kuat kepala negara Korea Selatan berikutnya. Bekas Ketua Umum Partai Minjoo Korea berusia 64 tahun ini memperoleh dukungan 32 persen dalam jajak pendapat Gallup.

Di tengah eskalasi hubungan Korea Selatan-Korea Utara yang naik turun, Moon Jae-in memiliki jalur komunikasi yang baik dengan Korea Utara, untuk mengurangi ketegangan diantara dua negara. Ia juga menawarkan rencana-rencana kerjasama dua negara sebelum bergerak ke arah mimpi unifikasi Korea.

Moon Jae-in bahkan berani bersikap independen terhadap Amerika Serikat, mitra utama mereka selama ini. Dalam isu Korea Utara, AS dan Korea Selatan berencana meluncurkan sistem pertahanan rudal THAAD. Moon Jae-in menilai rencana ini harus dipertimbangkan ulang, karena bisa memperparah hubungan Korea Selatan dengan Rusia dan Tiongkok.

Saat Partai Minjoo berkuasa pada 2003, pria yang berprofesi sebagai advokat ini pernah menjadi kepala staf Presiden Roh Moo-hyun.

Pada 2012, ia maju dalam pemilihan presiden namun kalah tipis dari Park Geun-hye. Moon Jae-in memperoleh 48 persen, sedangkan Park Geun-hye unggul dengan 51,6 persen suara.

Ahn Hee-jung

Ahn Hee-jung saat ini menjabat Gubernur Provinsi Chungcheong Selatan untuk periode kedua. Sebagai kader Partai Demokrat Korea atau Partai Minjo, ia cukup populer di kalangan konservatif.

Dalam jajak pendapat Gallup Korea, Ahn Hee-jung mendapat popularitas 17 persen untuk maju pemilu presiden Mei mendatang mewakili Partai Demokrat. Namun popularitasnya menurun karena sempat memberikan dukungan bagi Park Geun-hye di tengah skandal korupsi.

Berprofesi sebagai advokat, sama seperti Moon Jae-in, Ahn Hee-jung juga memiliki keterikatan dengan Korea Utara. Ia menganggap penting dua negara semenanjung Korea itu untuk berdialog, membuka kembali jalur pariwisata dan pembukaan kembali kompleks industri bersama di Kaesong.

Ahn Cheol-soo

Politisi dan juga pengusaha peranti lunak antivirus ini juga pernah memimpin Partai Demokrat Korea selama lima bulan, pada 2016.

Pada 2012, ia pernah maju sebagai kandidat calon presiden namun mundur satu bulan sebelum hari pencoblosan dan memilih kandidat lain. Menurut survei Gallup Korea, Ahn Cheol-soo mendapat dukungan 9 persen suara.

Kandidat Partai Liberty (Saenuri)

Hwang Kyo-ahn

Sejumlah kandidat lain juga masuk dalam radar, seperti Perdana Menteri Korea Selatan saat ini yaitu Hwang Kyo-ahn yang saat ini menjabat presiden sementara Korea Selatan. Di Korea Selatan, posisi presiden lebih tinggi dari perdana menteri.

Namun, diperkirakan Hwang Kyo-ahn akan maju pemilu presiden lewat Partai Liberty (Partai Saenuri).

Hwang Kyo-ahn pernah menjabat sebagai jaksa dan juga menteri kehakiman. Kebijakannya diperkirakan lebih keras dan tegas terkait Korea Utara, seperti halnya yang dilakukan Park Geun-hye saat menjabat.

Hwang Kyo-ahn berpeluang besar mendapat mandat ikut pemilu presiden dari Partai Saenuri jika dibanding dengan kader-kader partai lain.

Setiap partai akan memiliki waktu 37 hari menyiapkan calon presiden mereka. (Yonhap/Bloomberg/AP) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Desakan Penggantian Ketua DPR, Jokowi : Ikuti Mekanismenya

  • Penahanan Setnov, Ini Respon Pimpinan DPR
  • Minat Masih Tinggi, P4TKI Cilacap Intensif Sosialisasikan Moratorium Pengiriman Buruh Migran Formal ke Taiwan
  • Korsel Tingkatkan Level Siaga Wabah Flu Burung

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau