[SAGA] Ngobrolin Pangan ke Anak Muda Lewat Album 2500 Kalori

Mengapa memilih medium musik? Program Officer 2500 Kalori, Dhandy Satria, bercerita musik dipilih karena universal. Sehingga mudah diterima semua kalangan.

Senin, 15 Jan 2018 10:55 WIB

Peluncuran album 2500 Kalori di pelataran gedung pameran seni Sangkring Art Space, di Nitiprayan, Yogyakarta. Foto: Eka Juniari/KBR.

KBR, Yogyakarta - Di pelataran gedung pameran seni Sangkring Art Space, di Nitiprayan, Yogyakarta, Umar Haen bernyanyi sembari memetik gitar. Disaksikan puluhan mata, pemuda asal Temanggung ini melantunkan lirik-lirik tentang petani dan pangan.

Judulnya Kisah Kampungku. Lagu tersebut mencermati fenomena anak muda yang lebih suka menjadi buruh di kota, ketimbang jadi petani.

"Lagu ini bercerita tentang bagaimana anak muda di kampung saya yang enggan bertahan di kampung karena mereka punya impian ke kota dan akhirnya menjadi buruh. Tidak ada regenerasi petani dari yang tua ke muda," ucap Umar Haen ketika ditemui KBR.

Umar Haen juga bercerita, lagu ini lahir dari kegelisahan; bahwa pemuda dan pangan begitu berjarak. Malah, kemandirian pangan tak banyak dibicarakan di kalangan generasi muda.

"Saat ini tidak banyak pemuda yang ingin menjadi petani. Lagu saya ini dibuat satu setengah tahun lalu, dan ternyata muncul berita krisis petani muda. Loh ternyata isu bersama," sambungnya.

Tak hanya Umar Haen yang tampil. Total ada 15 musisi yang unjuk gigi. Dan para musisi muda ini adalah bagian dari projek album kompilasi yang disebut 2500 Kalori.

Produser projek 2500 Kalori, Yusuf Safary, menyebut informasi tentang pangan di kalangan remaja sangat minim. Hal lain yang jadi perhatiannya, bagaimana kecenderungan masyarakat enteng saja membuang makanan. Padahal di sisi lain, ada orang-orang yang kekurangan makanan.

"Membuang sisa makanan. Itu salah satu yang paling mencolok. Misal karena lapar mata, biasanya nasi yang diambil banyak tapi tidak habis. Bayangkan itu terjadi di seluruh Indonesia," tutur Yusuf.

Dari keresahan itulah, kira-kira setahun lalu, ia merangkul sejumlah musisi menciptakan lagu bertema pangan.

"Ngomongin pangan yang paling urgen untuk anak muda. Meskipun dekat, tapi rasanya jauh sekali dengan pengetahuan pangan," tambahnya.

Apa yang dirisaukan Yusuf sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah petani menyusut hingga lima juta orang dalam kurun 2003-2013. Itu artinya, 60 persen petani di Indonesia kini berada dalam usia di atas 45 tahun.

BPS juga menyebut jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian terus menurun dari 39,22 juta pada 2013 menjadi 38,97 juta pada 2014. Angka itu turun lagi menjadi 37,75 juta pada 2015.


(Illona Acintya Jovita, vokalis di Illona and The Soul Project. Foto: Eka Juniari)


Tapi mengapa memilih medium musik? Program Officer 2500 Kalori, Dhandy Satria, bercerita musik dipilih karena universal. Sehingga mudah diterima semua kalangan.

"Ada beberapa keterkaitan antara manusia dan musik sebelum ada lirik. Menurut kami musik media paling universal. Tidak terbatas umur dan tidak terbatas apapun," tukas Dandhy.

Album kompilasi 2500 Kalori ini bakal dijual seharga Rp50 ribu perkeping. Musisi lain yang terlibat, Illona and The Soul Project. Lewat lagunya berjudul Habiskan Makanmu, mereka ingin mengajak muda-mudi menghabiskan makanan. Vokalisnya, Illona Acintya Jovita.

"Kadang kalau kita ambil makanan tidak habis. Makanya saya ambil judul Habiskan Makananmu. Jadi pas banget di lagu kami ini semacam relasi dua orang yang kalau kamu nggak habisin aku nggak suka nih. Tapi kalau kamu habisin aku suka nih," cerita Illona.

Mahasiswi di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengatakan, kebiasaan membuang makanan kerap ia lihat. Dia menyebut mereka hanya lapar mata.

Illona pun berharap melalui lagunya, anak muda semakin sadar untuk menghargai makanan. Begitu pula dengan Produser projek 2500 Kalori, Yusuf Safary. Ia ingin tema pangan menjadi pembicaraan sehari-hari anak muda.

"Album ini tidak muluk- muluk. Kami ingin persoalan pangan ini paling tidak jadi percakapan di level anak muda," harap Yusuf.




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.