[SAGA] 'Setiap Nolong Satu Bayi, Rasa Bahagia Saya Lebih dari Si Ibu'

"Bayi tidak ada ibunya, akan stres. Nah ibu tidak ada bayinya juga stres. Jadi dua-duanya stres, double masalah sebenarnya."

Senin, 15 Jan 2018 11:50 WIB

Inkubator Gratis buatan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Raldi Artono Koestoer. Foto: Ade Irmansyah/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Di sebuah ruang berukuran 5x3 meter yang berada di gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, seorang pria ditemani tiga mahasiswa tengah berkutat dengan alat-alat teknik. Beberapa monitor LCD berukuran sedang dengan gambar-gambar grafik yang terhubung ke laptop dan beberapa kabel yang terhubung pada lengan salah seorang mahasiswa.

Di sela mengutak-atik alat-alat itu, sesekali mereka berdiskusi tentang barang eksperimen yang sedang mereka rancang. Namanya Inkubator Gratis.

Si penemu –yang merupakan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Raldi Artono Koestoer, bercerita Inkubator Gratis ini nantinya akan dilengkapi dengan alat pemeriksaan ektrokardiogram (EKG) yang bisa merekam aktivitas elektrik jantung.

"Jadi si Juan (mahasiswa) ini lagi bikin Elektromiografi, jadi untuk gerakan-gerakan otot nanti terlihat," ujar Raldi Artono Koestoer ketika ditemui KBR.

Raldi, begitu ia disapa, mengatakan ide Inkubator Gratis ini kali pertama lahir pada awal tahun 2000. Kala itu, ia banyak mendengar cerita bayi prematur yang meninggal lantaran orangtuanya tak punya uang membayar sewa inkubator di rumah sakit.

"Bayi tidak ada ibunya, akan stres. Nah ibu tidak ada bayinya juga stres. Jadi dua-duanya stres, double masalah sebenarnya. Nah sekarang kita satukan, semua penyakit bayi 50 persen hilang, karena apa? Karena si bayi sudah sama ibunya di rumah," jelasnya.

"Jadi jangan-jangan selama ini bukan takdir kalau bayi mati, tetapi memang karena tidak ada usahanya," sambung Raldi.

Bertahun bereksperimen, pada 2012, dua inkubator buatannya rampung. Ukurannya besar, persis seperti yang ada di rumah sakit. Daya listrik yang dibutuhkan juga besar 200 watt lebih.

Karena ukuran yang gede itu, rupanya menyulitkan keluarga pengguna inkubatornya memboyong ke rumah yang kebanyakan ada di gang-gang, pun minim listrik.

Raldi kemudian meriset lagi inkubatornya. Dan kini, Inkubator Gratis itu sudah lebih kecil. Beratnya 13 kilogram dan hanya memerlukan daya listrik tak lebih dari 50 watt. Bahan dasarnya terbuat dari acrylic dan kayu dengan ukuran 40x50x60 cm. Jumlah inkubatornya ada 60.

Siti Aminah, warga Rawa Makmur, Jonggol, Kabupaten Bogor jadi salah satu pengguna inkubator buatan Raldi. Saat kehamilan enam bulan, ada kendala pada kandungannya. Siti melahirkan dengan prematur.

Ketika itu, berat bayinya hanya 1,6 kilogram dan mesti dirawat di NICU atau ruang ICU khusus bayi. Akan tetapi, karena ketiadaan uang, bayinya hanya satu hari berada di rumah sakit.

"Waktu saya di rumah sakit tiga hari, bayi cuma satu hari. Karena tidak ada biaya. Satu hari satu malam, butuh Rp3 juta untuk bayi," cerita Siti Aminah.

Siti meminjam Inkubator Gratis selama sebulan setengah. Ia tahu barang itu dari rekannya yang kenal dekat dengan seorang relawan.

Hal serupa juga dialami Endang Kusrini, warga Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Endang waktu itu melahirkan bayi kembar saat usia kandungannya masih tujuh bulan. Berat bayinya pun hanya 1,3 kilogram dan 1,4 kilogram. Lantaran alasan biaya, Endang terpaksa memulangkan si jabang bayi. Padahal dokter menyarankan agar dirawat di NICU.

"Karena anak saya prematur lalu saya berfikir gunakan ini (inkubator gratis). Ada teman yang mengabari dan sudah menggunakan. Alhamdulillah sekarang sehat dan gemuk," tutur Endang.

Ia meminjam inkubator buatan Raldi hampir dua bulan setelah diberitahu tetangganya.


(Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Raldi Artono Koestoer (kiri) bersama seorang mahasiswanya sedang memperlihatkan alat pemeriksaan ektrokardiogram (EKG). Foto: Ade Irmansyah)


Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO pada 2012, Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara dengan bayi prematur terbanyak di dunia, yakni 675.700 bayi.

Sayangnya, lebih dari 90 persen alat kesehatan di rumah sakit di Indonesia, impor. Itu mengapa biaya perawatan NICU perharinya, antara Rp1-Rp2 juta. Sementara bagi Raldi, Indonesia semestinya sudah bisa membuat inkubator sendiri tanpa harus impor.

Sedang inkubator buatannya sengaja tak dipatenkan. Ini agar semua orang di Indonesia bisa menyontek. Dia bahkan menyiapkan tutorial pembuatan inkubator di blog pribadinya. Mulai dari bahan yang digunakan, harga, hingga alternatif bahan jia susah didapat. Semuanya demi menyelamatkan nyawa bayi-bayi.

"(Inkubator kami) harus hemat energi, kemudian harus enteng supaya bisa dibawa kemana-mana. Masuk desa keluar desa, masuk gang keluar gang. Bayi prematur kalau lahir di rumah sakit itu masuk NICU, ada inkubator, ada fototeraphy ada macam-macam peralatannya nah kita mau bikin semua alat itu," ujar Raldi.

Bagi orang-orang yang membutuhkan inkubatornya, Yayasan Bayi Prematu Indonesia yang berkantor di Yogyakarta, hadir. Dibantu 60 relawan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, mereka siap mendistribusikan pinjaman inkubator sampai ke pelosok.

Raldi berharap, pada 2020 mendatang, sudah ada 300 relawan yang mendaftar sehingga jangkauan Inkubator Gratis ini bisa meluas.

Sementara itu, Penanggung Jawab Produksi dan Teknis Tim Inkubator UI, Ibnu Roihan, menjelaskan syarat menjadi relawan.

"Yang pertama tidak boleh mengomersilkan inkubator ini. Jadi memang ini dipinjamkan secara gratis. Kedua adalah mengganti biaya produksi inkubator ini sebesar Rp 3,5 juta," jelas Ibnu.

Pengganti biaya produksi itu ditujukan kepada relawan. Tujuannya supaya relawan merawat inkubator dengan baik. Tak hanya itu, relawan juga diharapkan proaktif mencari pasien, bukan menunggu. Sisanya, uang itu dipakai untuk memproduksi inkubator baru.

Syarat lainnya, kata Ibnu, harus memiliki kendaraan pribadi atau mobil. Ini mengingat peminjamnya adalah masyarakat menengah ke bawah. Sehingga relawan harus mengantar dan mengambil kembali saat inkubator selesai digunakan. Dengan begitu, keluarga pasien yang sedang kesusahan tidak terbebani apapun.

Kembali ke Raldi. Hingga November 2017, setidaknya sudah 2000-an bayi prematur di seluruh Indonesia tertolong oleh temuannya tersebut.

Dia pun berharap apa yang dilakukannya bisa menginspirasi orang lain, terutama para ilmuwan di perguruan tinggi agar menciptakan barang yang bermanfaat dan tak berorietasi untung.

"Setiap nolong satu bayi, rasa bahagia lebih dari si ibu bayi yang berbahagia karena bayinya bisa sehat. Jadi saya bilang, sayalah orang paling berbahagia di dunia ini. Nah, andaikan kebahagiaan itu bisa dibeli, pasti sudah habis dibeli oleh orang kaya," ujar Raldi.

"Rasa bahagia inilah yang menurut saya tidak ada duanya. Kalau ada ibu dan bayi dan nenek bayi ucapkan terima kasih kepada saya, saya seakan terbang," sambungnya.




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.